Jumat, 04 Juli 2014

Kritikan Syaikh Abdul Hadi Al Umairy untuk Ustadz Luqman Ba’abduh (bagian 2)


Apakah kemajhulan telah hilang ataukah belum? Apakah masih ada yang tersisa?
Mereka (yang disebutkan ini) adalah guru-guruku dan saya (bacakan ini) adalah ucapan mereka sebagaimana yang telah kalian dengar. “Lalu apa dosaku kalau seandainya dia (Luqman) tidak mengenalku”. Tidak penting bagiku apakah dia mengenalku ataukah tidak. Adapun kalau dia bersikap lancang terhadap ucapan para ulama ini dan tidak perduli dengannya. Mungkin saja dia akan mengatakan “Sebelumnya saya tidak mengetahui hal ini”. Kita katakan kepadanya “Bertanyalah terlebih dahulu sebelum engkau berbicara!” apabila engkau tidak mengetahui, bertanyalah!. Akan tetapi, engkau bertanya tentangku kepada siapa? Tanyakan tentangku kepada para ulama, dan bukan kepada para penuntut ilmu. Engkau pergi bertanya tentangku kepada para penuntut ilmu? Kemudian mereka menjawab “Kami tidak mengenal orang ini” setelah itu engkau mengambil kesimpulan dan menulis dengan tanganmu kalimat yang engkau akan dimintai pertanggung jwaban darinya di hari kiamat kelak “Dia (Abdul Hadi) adalah seorang yang Majhul”.
Kalau seandainya saya membalas sikapnya sebagaimana yang dia lakukan kepadaku, niscaya semua guru-guruku yang saya sebutkan tidak ada yang mengenalnya. Tidak ada yang mengenal siapa Luqman.
Kalau seandainya saya membalas sikapnya sebagaimana yang dia lakukan, maka kita katakan “AndaMajhul”, dan bukan sekedar Majhul akan tetapi Majhul ‘ain(benar-benar majhul dari semua sisi). Akan tetapi kami tidak menyikapinya dengan manhaj yang dia menyikapi kami dengannya. Kalau seandainya saya tidak mengenalnya, maka hal tersebut tidak berkonsekuensi (bahwasanya dia Majhul), karena mungkin saja dia dikenal oleh ulama lain yang telah memberikan rekomendasi untuknya.
Akan tetapi sikapnya yang lancang dan memposisikan dirinya sebagai ahli dalam “Al-Jarhu Wat-Ta’dil”(baca: yang menjelaskan diterima atau ditolaknya seseorang), serta menjadikan dirinya sebagai satu-satunya rujukan di Indonesia?! (ambil ilmu dari orang ini dan jangan ambil dari orang ini!, orang iniMajhul). Siapa yang memvonisnya Majhul? Apakah engkau yang memvonis seseorang sebagai Majhul? Siapa engkau?! Memposisikan dirinya pada posisi para ulama.
Hal semacam ini (wahai saudara-saudaraku) adalah bentuk kedurhakaan yang dilakukan oleh anak-anaksalafiyyin terhadap manhaj Salaf. Orang -orang Hizbiyyun dan Ahul Bid’ah mereka tidak mengatakan bahwa kami adalah orang-orang yang Majhul. Demi Allah mereka tidak mengatakan hal demikian. Lalu datang seorang anak yang mengaku “Saya Salafi” kemudian dia memvonis orang yang dipersaksikan oleh ulama-ulama yang kokoh bagaikan gunung bahwasanya orang tersebut adalah Majhul, Lihat (sikapnya ini) dengan sangat ringan (dia mengatakannya). Tidakkah dia bertakwa (takut) kepada Allah?! Saya katakan kepadanya “Bertakwalah (takutlah) engkau kepada Allah terhadap saudara-saudaramu)!” tanpa memandang pribadi saya. Demi Allah, hal tersebut tidaklah berpengaruh bagiku, apapun yang diucapkannya aku tidak perduli. Demi Allah, aku tidak perduli dengan ucapannya. Akan tetapi yang saya inginkan agar dia bertakwa (takut) kepada Allah dan mengatahui kadar dirinya.
Hendaknya dia berjalan di atas kaidah.
Ulama bukanlah yang hanya dikenal olehnya. Ulama-ulama yang berjalan di atas manhaj Salaf(alhamdulillah) sangat banyak, baik yang sudah meninggal ataupun yang masih hidup. Dan ulama-ulama yang baru saja kalian dengarkan ucapannya semuanya masih hidup dan diberi usia panjang hingga saat ini. Silakan seseorang pergi menemui mereka, apakah dia melihat bahwasanya dia (Abdul Hadi) telah merubah-rubah (manhaj) dan menggantinya?! Kalian lihat sendiri (ucapan mereka) telah datang kepada kalian.
Sebagain orang, mereka tidaklah menginginkan kebenaran. Demi Allah, mereka sama sekali tidaklah menginginkan kebenaran. Kenapa? Karena setiap kali engkau datang kepadanya dengan membawa hujah dan realita yang sebenarnya, dia langsung lari. Pertama yang diucapkannya “Orang itu (Abdul Hadi)Majhul”. Baik, (kita sepakat) orang tersebut Majhul. akan tetapi, siapa mereka ini (yang menulis rekomendasi)? Apakah engkau tidak mengenal mereka?. Mereka ini adalah para ulama yang telah kalian dengarkan sendiri ucapannya dengan jelas dan gamblang serta tidak mengandung takwil.
Ucapan mereka sangat jelas. Orang-orang semacam ini (Luqman) apabila ulama yang berbicara ini telah meninggal, mereka akan mengatakan “Ucapan ini adalah ucapan yang dahulu” bukankah demikian?. Mereka mengatakan demikian “Ucapan (para ulama) ini adalah ucapan lama dan dia telah berubah”. Akan tetapi, (dalam kasus ini) tidak demikian. Mereka semua masih hidup. Silakan berkunjung ke kota Mekah dan saya akan pertemukan engkau dengan mereka satu persatu.
Agar engkau dengar sendiri apakah dia (Abdul Hadi) telah berubah ataukah dia kokoh berjalan di atas manhaj Salaf?!. Akan tetapi bukan seperti manhaj salaf yang engkau praktekkan. Manhaj Salaf (yang dimaksud) adalah manhaj Salaf yang dicontohkan oleh para ulama dan kami berjalan di atasnya.
Demikianlah kebiasan mereka (orang-orang seperti Luqman), tidak ada seorang pun yang selamat dari (celaan) mereka walaupun dia berjalan di atas manhaj Salaf.
(Syubhat) apa lagi yang dikatakannya?
(Salah seorang ustadz) : Dia menisbatkan ucapannya bahwasanya “dia (Abdul Hadi) Majhul” kepada Syaikh Rabi’ (semoga Allah senantiasa menjaganya).
Syaikh Rabi’ adalah guru dan imam kami. Kami mencintai, menghormati, dan memuliakannya (demikian kami meyakininya dalam beragama kepada Allah). Tidak ada hubungan nasab antara kami dengannya dan tidak pula hubungan kekeluargaan, namun antara kami dengan beliau adalah (berjalan di atas) satu manhaj. Kami mencintai, memuliakan, dan menghormatinya. Akan tetapi kalau Syaikh Rabi’ tidak mengenal kami, masih ada syaikh lain yang mengenal kami.
Apabila Syaikh Rabi’ tidak mengenalku, maka hal tersebut tidak berkonsekuensi bahwasanya saya telah jatuh (dalam manhaj). Hal ini wajib untuk dipahami oleh Luqman dan selainnya. Bahkan Syaikh Rabi’ sendiri pun tidak akan menyelisihi apa yang telah saya katakan. Apakah Syaikh Rabi’ mengenal semua orang?.
Apabila Syaikh Rabi’ tidak mengenalku, apakah hal tersebut berkonsekuensi bahwasanya ulama lain pun juga tidak mengenalku?!
(lihatlah) kisah antara Imam Ahmad bin Hanbal dan Yahya bin Ma’in. Imam Yahya bin Ma’in (pernah) berbicara miring tentang Imam Syafi’i (kisah ini tertulis di buku-buku biografi ulama), lalu Imam Ahmad berkata “Tidaklah ucapan Yahya (bin Ma’in) menurunkan kredibilitas Imam Syafi’i”. Apakah kalian memahami ucapan ini?
Syaikh Rabi’ tidaklah mengenalku. Akan tetapi, apakah hal tersebut memiliki konsekuensi bahwasanya beliau memandangku sebagai orang yang Majruh (rusak dalam manhajnya)?!, sementara ucapan para ulama ada (telah kalian dengarkan).
“Dan orang yang mengetahui (memiliki ilmu) adalah Hujjah(wajib diterima) oleh orang yang tidak mengetahui (tidak memiliki ilmu)”
Mereka ini adalah guru-guruku. Saya telah mengikuti majelis-majelis mereka berpuluh-puluh tahun hingga saat ini. Dan semua ulama yang memberikan rekomendasi kepadaku dikenal oleh Syaikh Rabi. Beliau sangat mengenal mereka.
Bahkan guruku Syaikh Yahya Utsman, antara dia dengan Syaikh Rabi’ saling memberi Ijazah. Beliau memberi Ijazah ke Syaikh Rabi’ dan Syaikh Rabi’ sebaliknya.
Beliau adalah guruku dan masih hidup sampai sekarang dikaruniai umur yang panjang. Dan kalian telah mendengarkan rekomendasi yang dia peruntukkan khusus untukku.
Syubhat apa lagi yang tersisa setelah ucapan ini?!.
Mungkin saja Syaikh Rabi’ tidak mengenalku. Akan tetapi, apakah hal itu memiliki konsekuensi jika beliau tidak mengenalku maka saya telah jatuh (dalam manhaj)?!. Apakah Syaikh Rabi’ mengatakan ucapan semacam ini. Saya yakin beliau tidak akan mengatakan ucapan yang semacam ini.
Beliau hanya ditanya “Siapa Abdul Hadi?” kemudian beliau menjawab “Saya tidak mengenalnya”. Betul, beliau tidak mengenalku.
Akan tetapi jika Syaikh Rabi’ tidak mengenalku, saya dikenal oleh ulama lain selainnya yang beliau akui kemuliaan ilmu dan kedudukan mereka.
Kalian telah dengarkan rekomendasi para ulama secara khusus (untukku) dan semua tertulis. Syaikh Washiyullah Abbas, beliau masih hidup dan dianugerahi umur panjang. Syaikh Yahya Utsman, beliau masih hidup dan dianugerahi umur panjang. Syaikh Muhammad Ali Adam, beliau masih hidup dan dianugerahi umur panjang. Syaikh Dr. Muhammad Umar Bazmul, beliau masih hidup dan dianugerahi umur panjang. Kalian telah dengarkan ucapan beliau yang disertai dengan stempel dan tulisan tangannya.
Saat ini, saya mengajak kalian untuk berbicara dengan pembicaran sesama penuntut ilmu, dan bukan dengan pembicaraan antara orang-orang awam.
“Saya Majhul, kapan vonis tersebut terangkat dariku?” silakan dijawab!..
“Kapan vonis tersebut terangkat?”
“Apabila seorang ulama terpandang telah memberikan rekomendasi untuknya”. Berapa jumlah rekomendasi yang telah kalian dengarkan?. Empat, dan selain mereka masih banyak. Saya sengaja hanya memperlihatkan yang empat ini, karena mereka inilah yang terdepan dan hampir tidak ada orang yang tidak mengenal mereka. Dan mereka ini adalah imam-imam dalam manhaj salaf. Apa lagi yang tersisa setelah ini?! Apakah dia masih belum menerima setelah apa yang diucapkan para ulama ini?!
Saya sangat yakin bahwasanya ucapan Syaikh Rabi’ tidaklah jauh dari apa yang telah diucapkan para ulama ini, kecuali jika dia (Luqman) bisa membuktikan bahwasanya saya telah merubah dan mengganti (dari apa yang telah direkomendasikan). Bukankah demikian?!. Kalau memang realitanya demikian, maka hendaknya dia datang dengan membawa bukti tersebut, baik Luqman maupun selainnya bahwasanya saya telah merubah dan menngganti (dari apa yang telah direkomendasikan). Apakah ucapan ini benar (sesuai kaidah) ataukah tidak?!
Baik.. Syubhat apalagi setelahnya?
Ada ucapan lain yang dikatakannya?
Bacakan (syubhatnya)! Dan kita akan menjawabnya.
Wajib baginya untuk tahu diri..!!
Jujur saja, demi Allah sebenarnya saya tidak ingin membuat klarifikasi ini padahal sebagian ustadz telah memberitahukan kepadaku tentang berita (baca: syubhat) ini dari awal daurah, namun saya menolak dan memerintahkan kepada untuk tidak menghiraukannya.
Akan tetapi, setelah saya pertimbangkan kembali hal ini bukanlah semata-mata berdampak kepadaku, bukan semata-mata ini. Akan tetapi, agar saudara (Luqman) mau berpikir sejenak, dan saya katakan kepadanya “Bertakwalah (takutlah) engkau kepada Allah”. Saat ini engkau lancang kepadaku, besok akan berdampak kepada selainku. Bukankah demikian?!.
Saya hanya bermaksud untuk mengajakmu berpikir sejenak dengan mengatakan “Hati-hati engkau!, hendaknya engkau tahu diri, Abdul Hadi Al-Umairi bukanlah orang gampangan yang seenaknya engkau jatuhkan kredibilitasnya!!!”
Saya memiliki rekomendasi dari para ulama yang kokoh di atas keilmuannya. Sebagian kalian ada yang tidak mengenal syaikh. Apakah kalian mengenal syaikh sebelumnya? Tentu saja kalian tidak mengenalnya, dan mungkin saja kalian merasakan ada yang mengganjal dari ucapan ini. Akan tetapi wahai saudara-saudaraku, demi Allah saya mengatakan ini bukan semata-mata untuk (membela) kehormatanku. Akan tetapi dikarenakan untuk melindungi saudara-saudara yang lain.
(Dia mengatakan) “Syaikh Ahmad Syamlan Majhul”. Kenapa karena beliau tidak dikenal oleh Syaikh Rabi’?. Akan tetapi beliau dikenal oleh Syaikh Muqbil, beliau adalah salah seorang murid Syaikh Muqbil di Dammaj. Apakah Syaikh Rabi’ harus mengetahui semua pelajar yang ada di Dammaj?. Wahai saudara-saudaraku, orang yang semacam (Luqman) ini, mereka mendatangi Syaikh dengan sebuah ucapan dan hal-hal yang tidak disukai oleh Syaikh.
Saya katakan kepada kalian ucapan ini (ucapan ini terekam dan akan tersebar). Dahulu saya memiliki seorang teman yang turut hadir di majelis Syaikh Washiyullah Abbas. Ketika itu dia menukil ucapan Syaikh Rabi’ bahwasanya beliau membid’ahkan Syaikh Bakar Abu Zaid. Lalu saya pun menghubungi beberapa pelajar yang selalu hadir di majelis Syaikh Muqbil dan saya katakan “Sampaikan keapada Syaikh bahwasanya Si Fulan bin Fulan berbicara (miring) dengan mengatasnamakan Syaikh Rabi’. Peristiwa ini ikut terekam dalam kumpulan rekaman-rekaman Syaikh Rabi’. Tatkala orang tersebut datang ke rumah Syaik Rabi’, beliau langsung memanggilnya (apakah kalian pernah mendengar rekaman tersebut?),beliau mengatakan “Berdiri engkau!, siapa yang menyampaikan kepadamu tentang Syaikh Bakar Abu Zaid?!, wahai anakku sesungguhnya engkau sedang sakit, pergi dan berobatlah!”. Syaikh mengusirnya. Syaikh bukanlah orang yang gampang untuk disandarkan kepadanya sembarang ucapan. Beliau adalah orang yang mulia, berilmu, dan memiliki kedudukan yang tinggi. Namun dengan cara semacam ini, seseorang datang seolah-olah ingin membenturkan Syaikh (Rabi’) dengan ulama yang lain.

00:00
00:00

Bersambung Insya Allah…

Kritikan Syaikh Abdul Hadi Al Umairy untuk Ustadz Luqman Ba’abduh (bagian 1)

إن الحمد لله نحمده و نستعينه ونستغفره ونعود بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهديه الله فل مضل له ومن يضلل فل هادي له وأشهد أن لا إله إل الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمدا عبده ورسوله.
يَا أيّها الّذِينَ ٱمَنُوا اتّقوا اللّهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنّ إِلّا وأنتُم مّسلِمُون
[ٱل عمران ١٠٢]
يَا أَيّهَا النّاسُ اتّقُوا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُم مّن نّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتّقُوا اللّهَ الّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
[النساء ١]
يَا أَيّهَا الّذِينَ آمَنُوا اتّقُوا اللّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعِ اللّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
[الحزاب ٧٠-٧١]
 أما بعد..
فإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كلام اللَّهِ، وخير الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ، وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ.
Saudara-saudaraku, sebelum saya memulai pelajaran hari ini, saya ingin menegaskan sebuah perkara. Perkara ini pada hakikatnya tidaklah memberi pengaruh kepadaku sama sekali. Dan demi Allah, saya mengatakan ucapan ini dalam keadaan jujur (insya Allah) “Perkara ini tidaklah memberi pengaruh terhadapku sama sekali dan saya tidak pernah menghiraukannya”. Akan tetapi terpaksa saya harus menjelaskannya dikarenakan hal-hal yang mungkin terbetik dalam jiwa sebagian orang. Dan marupakan hak setiap insan untuk meminta kejelasan dan kepastian sebuah perkara. Walaupun pada dasarnya saya meyakini dengan apa yang ada pada diriku dan tidak ada seorang pun yang bisa membuatku ragu terhadap diriku sendiri.
Ucapan yang telah tersebar dan telah kalian dengarkan (dan saya katakan “Rekam ucapan ini dan sampaikan kepada Luqman agar dia menyadari hakikat dirinya dan bukan agar dia mengetahui hakikat diriku. Dia harus mengetahui siapa dirinya?, dan dia juga harus menyadari tanggung jawab dari ucapan yang telah dia ucapkan, demikian juga hendaknya dia menyadari bahwasanya persaksiannya akan ditulis dan akan dimintai pertanggung jawaban darinya di hari kiamat kelak”
Saya tidak mengenalnya, kalau sendainya saya melihatnya, saya tidak akan mengetahuinya, dan saya tidak pernah mengenal seseorang yang bernama Luqman kecuali di negara kalian.
Akan tetapi hal tersebut bukanlah patokan; yaitu tatkala saya tidak mengenalnya maka dia termasuk orang yang “Majhul” sebagaimana yang ia tuduhkan. Bukan demikian!, saya hanya berbicara seputar pengetahuanku bahwasanya saya tidak mengenalnya.
Adapun dia, dia telah berbicara dengan ucapan yang akan dimintai pertanggung jawaban darinya di hari kiamat nanti. Dia menulis dan menyebarkan bahwasanya Abdul Hadi Al-Umairi “Majhul”. Sekarang saya ingin mengajak kalian berpikir sejenak, kalian adalah sekumpulan penuntut ilmu dan kami juga demikian, kalian pasti mengetahui kedustaan yang dilakukan orang ini, dan kalian mengetahui bahwasanya orang ini ingin menampilkan diri dan menjadikan dirinya sebagai rujukan dalam perkara “Al-Jarhu Wat-Ta’dil” (baca: yang menjelaskan diterima atau ditolaknya seseorang), sehingga dia yang memberi rekomendasi dan dia pula yang menjelaskan ditolaknya seseorang.
Ini yang diinginkannya. Tidaklah saya mengatakan ini, melainkan setelah melihat apa yang nampak dari orang ini. Ketergesah-gesahandan kelancangan yang dilakukannya terhadap para ulama.
Saya tidak merekomendasi diri saya sendiri bahwasanya saya adalah bagian dari ulama, tidak demikian. Akan tetapi kelancangannya terhadap ucapana para ulama.
Saya memiliki banyak rekomendasi dari ulama-ulama besar lagi kokoh di atas keilmuan. Demi Allah saya tidak pernah memiliki keinginan untuk menampakkannya, akan tetapi saya ingin memberitahukan kepada orang ini tentang kedudukanku. Seharusnya orang ini mengetahui kedudukannku.
Siapa Luqman? Dia ingin melawan para ulama besar dalam ucapan dan rekomendasi yang akan kalian dengarkan.
Kalian telah saksikan dan kalian akan dengarkan (insya Allah), kalian telah lihat disertai stempel resmi dan tulisan tangan mereka. Mereka yang berbicara dalam rekomendasi ini siapa? (tentunya bukan Luqman)
Apabila dia menyadari bahwasanya dia hanyalah seorang penuntut ilmu dan dia mengatakan bahwasanya dia hanyalah seorang penuntut ilmu, maka apa yang dia ketahui tentang ilmu “Al-Jarhu Wat-Ta’dil”(baca: yang menjelaskan diterima atau ditolaknya seseorang). Kita lemparkan kepadanya pertanyaan ini.
Bukankah engkau meyakini dengan apa yang telah ditetapkan oleh para ulama “Apabila seseorang telah direkomendasi oleh seorang ulama yang terpandang, apakah rekomendasinya diterima atau tidak?”. Apakah dia meyakini hal ini ataukah dia tidak meyakininya?.
Apabila dia seorang penuntut ilmu, maka inilah hakikat Manhaj Salaf.
Seorang ulama yang terpandang, apabila datang seseorang yang tidak kita kenal (agamanya) kemudian ulama tersebut (ulama yang terpandang) memberikan rekomendasi untuknya, maka rekomendasi tersebut diterima. Kecuali jika dia tidak mengenal ulama yang memberi rekomendasi tersebut, maka ini perkara lain.
Apabila dia tidak mengenal ulama-ulama yang telah memberikan rekomendasinya kepadaku, mungkin saja dia akan mengatakan bahwasanya ulama-ulama tersebut juga “Majhul”. Atau bisa jadi ulama-ulama tersebut tidak terpandang di sisinya. Sungguh ini adalah musibah selanjutnya. Kegelapan yang bertumpuk-tumpuk.
Beberapa rekomendasi yang ada padaku sekrang saya akan membacakannya untuk kalian. Saya hanya akan membacakan empat rekomendasi saja, walaupun masih ada rekomendasi-rekomendasi yang lain.

Rekomendasi pertama adalah rekomendasi Syaikh Yahya Utsman Al-Hindi al-Mudaris.
Beliau adalah seorang ulama ahli hadits, beliau adalah guru syaikh Muqbil. Syaikh Muqbil belajar kepadanya. Biografi beliau tercantum dalam biografi Syaikh Muqbil. Silakan kalian merujuk kepada biografi syaikh Muqbil, niscaya kalian akan mendapati di antara guru syaikh Muqbil adalah Syaikh Yahya Utsman yang juga merupakan guruku.
Saat ini saya akan memberikan untuk kalian sanad kitab-kitab ini dari jalur beliau. Beliau telah memberikanIjazah untukku, namun saya tidak akan membacakan “Ijazah” dari beliau, akan tetapi saya akan membacakan rekomendasi yang beliau peruntukkan khusus bagiku.
Rekomendasi kedua adalah rekomendasi seorang ulama ahli hadits Syaikh Washiyullah Abbas, seorang ulama yang kokoh keilmuannya. Dan saya akan membacakan rekomendasi dari beliau yang khusus diperuntukkan bagiku. Saya mengambil ilmu dari beliau kurang lebih lima belas tahun, hingga saya mendatangi kalian (pada daurah ini) berdasarkan wasiat (arahan) dari Syaikh. (silakan tanyakan kepada Ustadz Muhammad Naim yang sebelumnya kami bersama beliau di rumah)
Rekomendasi ketiga adalah rekomendasi seorang ulama ahli hadits Muhammadn Ali Adam Al-Etopia. Beliau adalah guruku dan sanda-sanad yang akan kalian dengar juga berasal dari jalur beliau, akan tetapi saya tidak akan membacakan “Ijazah” dari beliau, akan tetapi saya akan membacakan rekomendasi yang beliau peruntukkan khusus bagiku.
Rekomendasi yang keempat adalah rekomendasi Syaikh Prof. Dr. Muhammad Umar Bazmul. Apakah kalian mengenalnya?. Kalian akan mendengarkan rekomendasi dari beliau yang diperuntukkan khusus bagiku. Dan masih banyak lagi, akan tetapi yang disebutkan ini cukup (meyakinkan) Luqman atau tidak?.
Kalau dia tidak mengenal ulama-ulama yang disebutkan ini, maka hal ini adalah perkara lain. Apakah dia ingin menghukumi mereka juga sebagai orang-orang yang Majhul atau tidak terpadang di sisnya? Maka ini adalah perkara lain.
Dengarkan!
Rekomendasi Syaikh Yahya Utsman
rekomendasi Syaikh Yahya
الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه وبعد
Saudara Syaikh Abdul Hadi bin Muhji Al-Umairi adalah bagian dari saudara-saudara salafiyin. Dari sisi Akidah, Akidah beliau adalah Akidah Salaf, akhlak beliau adalah akhlak yang tinggi, wawasan beliau sangat baik dan kokoh, beliau memiliki beberapa sumbangsih dalam beberapa karya dan tulisan. Beliau sangat pantas untuk mendapatkan dorongan dan penghormatan.
Hanya kepada Allah kita memohon taufik
(ditulis oleh)
Yahya Utsman Al-Mudaris
Apakah kalian sudah dengar rekomendasi dari Syaikh ini? Beliau ini adalah guru Syaikh Muqbil dan beliau juga adalah guruku.
Rekomendasi Syaikh Washiyullah Abbas, beliau memiliki dua rekomendasi, saya akan membacakannya untuk kalian. (rekomendasi ini khusus diperuntukkan bagiku)
IMG-20140613-WA0000IMG-20140613-WA0001بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على خير خلق الله محمد وعلى آله وصحبه أجمعين, وبعد..
Telah meminta kepada kami Saudara kami yang mulia Abdul Hadi bin Muhji Al-Umairi rekomendasi ilmiyah untuk disampaikan kepada sebuah lembaga. Maka saya memberi rekomendasi untuknya secara ilmiyah yang dilandasi kelapangan dada. Beliau adalah orang yang memiliki semangat yang tinggi dalam menuntut ilmu, wawasan, dan membekali dirinya dengan pengetahuan umum dan khususnya dalam bidang hadits dan Faraidh (ilmu waris), dan dia telah belajar di majelisku di masjidil haram (semoga Allah membalasnya dengan kebaikan) sejak pertama kali saya memulai mengajar di Masjidil Haram dan saya sangat mengenalnya dari sisi keseriusan yang yang baik dan riwayat hidup yang baik, maka saya wasiatkan kepada saudara-saudara penanggung jawab di tempat ini dengan beberapa wasiat.
Ini adalah rekomendasi dari Syaikh Washiyullah Abbas
Rekomendasi kedua dari beliau (semoga Allah merahmatinya)
الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على خير خلقه محمد وعلى آله وصحبه أجمعين, وبعد..
Sesungguhnya saudara Abdul Hadi bin Muhji Al-Umairi adalah salah seorang penuntut ilmu yang telah saya kenal sejak lama, saya mengenalnya sebagai seorang yang (serius) dalam menuntut ilmu dan bersungguh-sungguh serta senantiasa mengikuti para ulama di masjid-masjid dan di pelajaran-pelajaran mereka. Beliau dahulu adalah pelajar yang selalu duduk di majelis Syaikh Abdullah Alu Bassam (semoga Allah merahmatinya).
Apakah kalian mengenal Syaikh Abdullah Alu Bassam? Beliau adalah guruku. Aku selalu mengikuti majelisnya hingga beliau meninggal (semoga Allah merahmatinya)
Dan ini adalah persaksian Syaikh Waliyullah Abbas
Dan beliau (Abdul Hadi Al-Umairi) belajar di Ma’had Al-Haram kemudian melanjutkan ke Fakultas Al-Quran dan Sunah di Universitas Umul Qura, kemudian beliau terus mengikuti pelajaranku di Masjidil Haram pada pelajaran Hadits dan ilmu Hadits, oleh karena itu saya persaksikan keutamaan yang ada padanya dan keluasan wawasan yang dimilikinya.
Washiyullah Abbas.
Apakah kalian sudah dengar?
Tersisa rekomendasi siapa?
Syaikh Muhammad Ali Adam
IMG-20140613-WA0004
الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على أشرف الأنبياء والمرسلين نبينا محمد الأمين وعلى آله وأصاحبه أجمعين ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين,أما وبعد..
Sesungguhnya saudara Abdul Hadi bin Muhji Al-Umairi adalah orang yang saya kenal dengan akhlak yang baik dan akidah yang lurus. Demikianlah saya mengenalnya dan saya tidak mendahului Allah dalam memberinya rekomendasi. Saya mengetahui hal tersebut darinya berdasarkan kehadirannya di pelajaran yang aku sampaikan di Masjid Jami’ Al-Abrar yang berlokasi di Jalan Manshur setiap malam kecuali malam Kamis dan Jumat yang membahas pelajaran Shahih Bukhari dan Muslim, Sunan An-Nasai’, Alfiyah Musthalah, dan Tuhfah Mardhiyah dalam bidang Ushul Fikih. Saya melihatnya sebagai orang yang bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu, senantiasa berperangai dengan adab penuntut ilmu, dan berakhlak dengan akhlak yang baik, dia tidak suka ikut campur dalam perkara-perkara yang bukun urusannya, tingkatan keilmuannya tinggi. Dia telah meraih banyak kebaikan demikian pula memberi banyak kebaikan, hal ini ditunjukkan oleh beberapa tulisan (penelitian) ilmiyah yang ditulisnya. Maka kami memohon kepada Allah subhaanahu wata’ala untuk menjadikannya bermanfaat bagi kaum muslimin secara umum dan bagi penuntut ilmu secara khusus. Dengan sebab inilah saya menulis rekomendasi ini.
وصلى الله وسلم وبارك على عبده رسوله محمد الأمين وعلى آله وصحبه أجمعين
Ditulis oleh
Muhammad bin Ali Adam
Pengajar di Darul Hadits di Mekah Mukaramah
Tersisa rekomendasi Syaikh Muhammad Bazmul
IMG-20140613-WA0002
إن الحمد لله نحمده و نستعينه ونستغفره ونعود بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهديه الله فل مضل له ومن يضلل فل هادي له وأشهد أن لا إله إل الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمدا عبده ورسوله صلى الله عليه وسلم. أما بعد
Sesungguhnya saudara yang mulia Syaikh Abdul Hadi bin Muhji bin Muhammad Al-Umairi (semoga Allah senantiasa memberikan taufik kepadanya dalam kebaikan) adalah orang yang saya kenal semangat dalam menuntut ilmu dan senantiasa berusaha mengikuti sunah dan kokoh di atas apa yang dicontohkan olehSalafus Shaleh hal tersebut ia hiasi dengan perhiasan penuntut ilmu berupa akhlak dan adab yang mulia. Dan tidaklah saya mendahului Allah dalam merekomendasi seseorang. Dan saya wasiatkan untuk membantunya dalam meraih apa yang direncanaknnya, karena sesungguhnya (insya Allah) dia berhak untuk mendapatkan hal tersebut dan tidaklah saya mendahului Allah dalam merekomendasi seseorang. Sebagaimana juga saya mewasiatkan kepadanya untuk bertakwa kepada Allah subhaanahu wata’ala dan senantiasa memperbanyak amal saleh dan menjauhi kawan-kawan yang buruk serta untuk senantiasa memanfaatkan waktu dan usia dalam hal-hal yang bermanfaat.
Aku tuliskan wasiat ini berdasarkan permintaan darinya, dan hanya Allah subhaanahu wata’ala sajalah yang mengetahui apa yang ada di dalam dada.
وفق الله الجميع لما يحب ويرضى وصلى الله على محمد وعلى آله وصحبه وسلم
(ditulis oleh)
Prof. Dr. Muhammad bin Umar bin Salim Bazmul
Apakah kemajhulan telah hilang ataukah belum? Apakah masih ada yang tersisa?
Mereka (yang disebutkan ini) adalah guru-guruku dan saya (bacakan ini) adalah ucapan mereka sebagaimana yang telah kalian dengar. “Lalu apa dosaku kalau seandainya dia (Luqman) tidak mengenalku”. Tidak penting bagiku apakah dia mengenalku ataukah tidak.

Audio Menit 00-18.42
00:00
00:00


bersambung Insya Allah…

Sabtu, 28 Desember 2013

Sebuah Kisah Nyata Tragedi Karimata Akibat Kekerasan Paduka Jember (Bagian 2)

Urusan perpajakan yang berbelit akhirnya selesai juga, dan saya segera keluar gedung menuju mobil yang saya parkir di tepi jalan. 

Sesampainya di pintu pagar gedung pajak terdengar teriakan anak saya....teriakan ketakutan..dari seorang anak berusia 4 tahun yang tidak tahu menahu urusan ini....demi mendengar teriakan itu...segera saya mempercepat langkah menuju mobil...tanpa di duga sekelebat bayangan seseorang menghampiri dari arah samping kiri, kemudian secara agresif dan dengan kata-kata kasar mulai mendekati saya. Dengan cekatan (seperti seorang yang terlatih)orang tsb mengunci badan saya dan menempelkan badan saya ke pintu mobil sehingga badan saya tidak dapat bergerak...seketika itu juga bapak satpam yang berjaga- di gedung pajak hendak memberi pertolongan, namun orang tersebut yang ternyata adalah Pak Abu yang sedari tadi menyanggong saya, meneriaki pak satpam ini sehingga pak satpan menjadi keder, mundur kebelakang, dan sembunyi di pos penjagaan.... Takut juga rupanya pak satpamnya.

Beberapa detik kemudian dari mulut seorang yang seharusnya sholih ini, keluarlah pesan-pesan sponsor ..."Orang-orang pondok sudah tdk ada yg suka sama ente!"....dan meluncurlah sebuah pukulan telak yang mengenai pipi kiri saya. istri saya yang sedari tadi gelisah dan hanya bisa menyaksikan kejadian itu...beranjak mulai panik dan berteriak-teriak minta tolong, sampai-sampai bayi saya yang berumur 3 bulan terjatuh dan mengalami luka-luka.. 

Dalam keadaan yang kalut, mencekam dan serba darurat itulah Alloh memberikan pertolonganNya, dengan cepat istri saya menyodorkan spray pelumas mesin yang tergelatak di dek mobil, dan alhamdulillah dengan berbekal sedikit ilmu bela diri yang saya pelajari dulu, saya berhasil lepas dari kuncian Pak Abu dan berhasil meraih spray dari tangan istri saya, dengan secepat kilat kemudian spray itu saya semprotkan ke mata pak abu, rupanya semprotan itu mengejutkannya sampai dia terlonjak mundur dengan tangan ditutupkan ke wajah untuk melindungi matanya, dan seperti melihat hantu di siang hari pak abupun lari terbirit-birit, itulah pertolongan Alloh...dan Alloh berkendak atas segala sesuatu. 

Dan keadaanpun berbalik, situasi yang menguntungkan itu tak sedikitpun saya sia-siakan, Karena saya khawatir tdk akan lama lagi mantan-mantan mujahidin teman-teman pak abu akan berdatangan, dan membantu pak abu. Maka dengan cepat saya meraih gagang pintu mobil dan mencoba untuk menstarternya. Namun sayang,.... rupanya pak abu sudah gelap mata, bagaikan singa yang takut kehilangan mangsanya,....pak abu mulai melancarkan serangannya kembali.

Jeritan anak-anak bercampur dengan tangis bayi dan teriakan perempuan mencabik-cabik keheningan sore itu, tapi itu semua tidak sedikitpun membuat reda serangan pak abu., wallohu a'lam apa yang menyebabkan seorang berpeci, berjenggot dan bergamis bisa melakukan tindakan yang sangat tidak berderajat itu.

Gerakan saya masih kalah cepat dengan jurus2 dari pak abu, dengan gaya layaknya seorang preman pasar yang kurang jatah setoran, pak abu menendang pintu mobil bagian sopir hingga jebol. dan Alhamdulillah mobil berhasil di starter dan saya langsung tancap gas melarikan mobil saya ke arah luar kota. Dalam keadaan pintu mobil yang jebol hampir tidak mungkin kami bisa melanjutkan perjalanan saya.

Rintik gerimis menambah sejuknya hawa kota jember di senja itu,....senja yang kelam...sekelam hati kami...Indah dan sejuknya kota Jember tak mampu memadamkan bara api permusuhan orang-orang pondok kepada kami.. Kami berlima tidak lebih dari sebuah keluarga urban yang berharap mendapatkan tempat dan teman yang lebih baik dari sisi agama. Kami hijroh berharap taqwa.dan JannahNya.. Tidak pernah terlintas sedikitpun pada benak kami akan terjadi.peristiwa2 yang mencekam ini....Sungguh dampak yang sangat buruk dari TAHDZIR USTADZ KIBAR YANG SALAH SASARAN Allohul musta'an....hanya kepada Alloh sajalah kami mengadu.

Mobilpun melaju dengan lesu, saya mengendarainya dengan satu tangan dan tangan yang lain memegangi daun pintu mobil yang jebol akibat tendangan maut pak abu...

Kami menyusuri jalan-jalan kota Jember nan rindang oleh pohon sono di tepi-tepi jalan, dan tanpa terasa kami tengah meluncur di jalan jawa yang penuh nostalgia, Pandangan kami serentak tertuju pada suatu rumah. 

Rumah itu sekarang kosong...sepi...terlihat lebih bersih seperti baru direnovasi....ah...sudahlah itu masa lalu...kurang lebih begitulah yang sedang kami pikirkan. Kenangan demi kenangan seakan berhamburan memenuhi benak kami, Jawa 44, Marlina, Korupsi, Ishlah, tahdzir dan apa lagi...ah..sudahlah cukup, itu masa lalu.... sekali lagi saya mencoba menepis kenangan-kenangan buruk yang sedang berkutat di alam pikiran saya sendiri.

Luqman Baabduh Penghancur Al-Haq

Pertanyaan:
بِسم الله الرَّحمنِ الرَّحِيم
Luqman Ba’abduh mengadakan dauroh di beberapa tempat di Tanah Air dengan tujuan untuk membongkar tuntas tentang Ahlissunnah yang di Dammaj dan sekitarnya, apa tanggapanmu!.

Jawaban:
بِسم الله الرَّحمنِ الرَّحِيم
الحَمْدُ لله، أَحْمَدُه، وأستعينُه، وأستغفرُهُ، وأَشْهَدُ أنْ لا إلَهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وأشهدُ أنَّ مُحَمَّدًا عبْدُه ورَسُولُه.
أمّا بعدُ:
Alloh (تعالى) berkata:
{الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا} [الكهف: 104]
“Orang-orang yang telah sesat amalan mereka di kehidupan dunia dan mereka menyangka dalam keadaan melakukan perbaikan”. (Al-Kahfi: 104).
Demikianlah keadaannya Luqman bin Muhammad Ba’abduh berserta jaringannya, tidak pernah mereka itu merasa salah bahkan mereka selalu merasa di atas jihad dan sedang beramal kebaikan.
Dosa dan kejahatan mereka masih segar bau busuknya tercium oleh manusia ditambah lagi dengan berbuat dosa-dosa baru, ingin mencari-cari dan menghitung-hitung kesalahan orang dengan berbagai macam cara, padahal mereka sendiri memiliki segudang dosa dan kejahatan, sungguh bagus perkataan Abdulloh bin Mas’ud untuk dipukulkan kepada Luqman Ba’abduh dan orang-orang yang semisalnya:
“فَعُدُّوا سَيِّئَاتِكُمْ، فَأَنَا ضَامِنٌ أَنْ لَا يَضِيعَ مِنْ حَسَنَاتِكُمْ شَيْءٌ”.
“Maka hitunglah kejelekan-kelejekan kalian, aku adalah yang memberi jaminan bahwa tidak akan tersia-siakan dari kebaikan-kebakan kalian sedikit pun”.Diriwayatkan oleh Ad-Darimiy dengan sanad hasan, dari hadits Al-Hakam Ibnul Mubarok, dari ‘Amr, dari Yahya dari Bapaknya.
Kasihan sekali mereka itu, lantaran membela pembuat kerusakan dan membela si penuduh mereka pun berbondong-bondong membuat kerusakan di muka bumi dengan anggapan sedang mengadakan perbaikan:
{وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ (11) أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُونَ وَلَكِنْ لَا يَشْعُرُونَ (12)} [البقرة: 11، 12]
“Dan jika dikatakan kepada mereka: “Janganlah kalian membuat kerusakan di muka bumi, mereka menjawab: “Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang mengadakan perbaikan. Ketahuilah sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak menyadari”. (Al-Baqoroh: 11-12).
Kali ini mereka riang gembira karena mendapatkan respon dari Asy-Syaikh Robi’, mereka bergembira karena mereka bisa menyatukan kalimat di hadapan manusia, bukan main orang-orang yang berloyalitas dengan Syi’ah-Rofidhoh, orang-orang yang berloyalitas dengan hizbiyyin, orang-orang yang berloyalitas dengan para penjahat bisa bersatu untuk menyerang Ahlissunnah yang berada di Dammaj, kasihan persatuan mereka hanya di depan mata namun hakekatnya mereka berpecah:
{بَأْسُهُمْ بَيْنَهُمْ شَدِيدٌ تَحْسَبُهُمْ جَمِيعًا وَقُلُوبُهُمْ شَتَّى ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَا يَعْقِلُونَ} [الحشر: 14]
“Permusuhan antara sesama mereka adalah sangat dahsyat. kamu mengira mereka itu bersatu, sedang hati mereka berpecah belah, yang demikian itu karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang tidak mengerti”. (Al-Hasyr: 14).
Kasihan mereka berani membela Muhammad bin Abdillah Ar-Rimiy yang ghuluwdan senang menggelari dirinya dengan al-imam, tanpa malu menuliskan di belakang namanya dengan gelar itu, kasihan kali ini Muhammad Ar-Rimiy sedang kebingungan, dengan terang-terangan dia mengkafirkan orang-orang yang meninggalkan sholat namun Rofidhoh dia tidak berani kafirkan, padahal berbagai kejelekan dan kekafiran dilakukan oleh Rofidhoh; meninggalkan sholat, berbuat syirik dan ghuluw kepada ahlil bait, keluar dari jama’ah kaum muslimin, mengkafirkan sebagian shohabat, menuduh Aisyah berbuat keji, menghalalkan zina dan memerangi kaum muslimin dengan persenjataan.
Kasihan kekafiran seperti itu jelasnya mereka masih berloyalitas dan menganggapnya sebagai saudara mereka dan tidak menggugatnya, namun ketika ada dari kaum muslimin yang mereka anggap (sesuai sangkaan mereka) terjatuh ke dalam dosa besar mereka beramai-ramai untuk mengusirnya, bahkan menculiknya, memukulnya, bahkan menyembelihnya serta merajamnya, padahal mereka sendiri para pelaku dosa besar yang mereka tidak menyadari.
Kami katakan: Wahai Luqman, tidaklah ada yang masih bisa tertipu dengan penampilan dan lagakmu melainkan hanya orang-orang yang masih tertanam watak dan bid’ahnya LJ (laskar jihad). Adapun orang-orang yang sudah benar-benar bertaubat dari LJ dan yang mengetahui kelicikan dan kebengisanmu maka mereka melihatmu merasa jijik karena kamu itu tidak ada bedanya dengan seekor anjing:
{فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ الْكَلْبِ إِنْ تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَثْ} [الأعراف: 176]
“Maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya maka dia mengulurkan lidahnya (juga)”.(Al-A’rof: 176).
Mungkin kata-kata ini sangat kasar, tapi bagaimana lagi karena Luqman itu perlu dipukulkan kata-kata seperti ini, supaya dia lebih mengerti tentang dirinya dan supaya sadar atau kalau dia masih tetap tidak mengerti dan tidak mau sadar maka tidak ada ucapan untuknya melainkan perkataan:
{إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ}
Kasihan karena deritanya mereka bertambah parah, mereka semakin tuli, buta dan bisu dari al-haq:
{مَثَلُهُمْ كَمَثَلِ الَّذِي اسْتَوْقَدَ نَارًا فَلَمَّا أَضَاءَتْ مَا حَوْلَهُ ذَهَبَ اللَّهُ بِنُورِهِمْ وَتَرَكَهُمْ فِي ظُلُمَاتٍ لَا يُبْصِرُونَ (17) صُمٌّ بُكْمٌ عُمْيٌ فَهُمْ لَا يَرْجِعُونَ (18)} [البقرة: 17، 18]
“Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api, maka setelah api itu menerangi sekelilingnya Alloh hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat. Mereka tuli, bisu dan buta maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar)”. (Al-Baqoroh: 17-18).
Sungguh kasihan dia begitu pula jaringannya mulai lagi angkat bicara karena mendapat semprotan dari Asy-Syaikh Robi’, kasihan mereka ingin membela Asy-Syaikh Robi’ atau ulama mereka dengan memulai menyalakan api lagi!.
Mereka ghuluw sampai menjadikan Asy-Syaikh Robi’ seakan-akan Robb alam semesta, mereka tidak peduli apa yang keluar dari lisan Asy-Syaikh Robi’ baik benar atau salah “yang penting Robi’ berkata”, mereka langsung menelannya mentah-mentah, kasihan mereka dalam beragama persis seperti orang-orang shufi.
Perkataan ulama, mereka lebih unggulkan dari pada perkataan Alloh dan Rosul-Nya, kasihan prilaku dan ucapan serta dorongan mereka kepada para jaringan mereka persis dengan ucapan kaum Nabi Ibrohim:
{حَرِّقُوهُ وَانْصُرُوا آلِهَتَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ فَاعِلِينَ} [الأنبياء: 68]
“Bakarlah dia dan tolonglah sesembahan-sesembahan kalian, jika kalian benar-benar hendak bertindak”. (Al-Anbiya’: 68).
Ini persis dengan ucapan Luqman Ba’abduh ketika dimintai fatwa oleh Saifulloh Ambon dia pun berkata “tolonglah ulama kita…”. Sungguh kasihan mereka, sekarang Luqman Ba’abduh mencoba tampil lagi.
Luqman, Luqman, Luqman! Kasihan dirimu! Walau pun kamu dan orang-orang yang sejaringan dengamu mencoba dengan berbagai macam cara untuk bertingkah seperti itu, namun dengan izin Alloh kalian tidak akan berhasil, bahkan kalian akan semakin terpuruk dan binasa:
{مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعِزَّةَ فَلِلَّهِ الْعِزَّةُ جَمِيعًا إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ وَالَّذِينَ يَمْكُرُونَ السَّيِّئَاتِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَكْرُ أُولَئِكَ هُوَ يَبُورُ} [فاطر: 10]
“Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Alloh-lah kemuliaan itu semuanya, kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang sholih dinaikkan-Nya. dan orang-orang yang merencanakan kejahatan bagi mereka azab yang keras, dan rencana jahat mereka akan hancur”. (Fathir: 10).
Kasihan dirimu wahai Luqman!, bukankah dulu kamu dan orang-orang yang sejaringan denganmu merekomendasikan orang-orang kalian ke Dammaj, dan mereka kemudian melakukan makar di Dammaj, menjalankan misi seperti yang pernah kamu lakukan baik berupa kejahatan, pemukulan, pencelaan, penghinaan, penghalalan kehormatan orang dan yang semisal itu, namun dimana mereka semua?.
Karena tidak berhasil kemudian kamu (wahai Luqman) dengan penguat dari fatwa Ubaid Al-Jabiriy memerintahkan untuk keluar dari Dammaj, orang dilarang masuk ke Dammaj, yang di Dammaj disuruh keluar, kasihan!.
Walaupun faham kalian seperti itu masih ada pada orang-orang yang pernah terpengaruh dengan kalian yang mereka mencoba menerapkannya kembali faham busuk kalian itu di Dammaj dengan berusaha mengeluarkan Ahlissunnah Al-Indonesiyyin dari Dammaj dengan tuduhan dan alasan karena ahlul ma’ashi (pelaku ma’siat), luthi, jatuh cinta dengan anak-anak atau  melihat gambar porno dan yang semisalnya namun:
{وَمَكْرُ أُولَئِكَ هُوَ يَبُورُ} [فاطر: 10]
“Dan rencana jahat mereka itu akan hancur”. (Fathir: 10).
Kasihan mereka semua berusaha untuk mengeluarkan Ahlissunnah dari Dammaj, mereka kali ini semisi dengan Rofidhoh, kaum Rofidhoh berupaya mengeluarkan Ahlissunnah dari Dammaj dengan berbagai macam cara, perang fisik dan mental mereka lakukan.
Dan ternyata para hizbiyyun yang dipelopori oleh Ubaid Al-Jabiriy ikut andil dengan mengeluarkan fatwa ngawur “orang-orang yang di Dammaj keluar, yang diluar jangan ke Dammaj”.
Mereka yang di Ma’bar tidak ada tamayyuz (pembeda) antara Ahlissunnah dan para hizbiyyin, bahkan sebagian orang-orang yang beramai-ramai duduk di sisi Asy-Syaikh Robi’ adalah mereka para hizbiyyin dan nampak Asy-Syaikh Robi’ berloyalitas dengan mereka karena mungkin ditipu, Asy-Syaikh Robi’ sungguh telah terhujati dengan perkataannya yang dahulu, dia berkata di dalam “Syarhu Ushulis Sunnah Lil Imam Ahmad“:
“كثير من السياسيين عندهم نفاق عملي في الأحزاب السياسية، ومن علامات هذا النفاق تولي أهل البدع”.
 ”Kebanyakan dari para politikus mereka ada “nifaq ‘amaliy” (amalan kemunafiqkan) pada kelompok-kelompok siasat (mereka), dan diantara tanda kemunafiqkan ini adalah berloyalitas dengan ahlul bida’“.
Maka sangat pas perkataan Asy-Syaikh Robi’ pada salah satu tulisannya untuk dipukulkan kepada Asy-Syaikh Robi’ sendiri dan orang-orang yang taqlid kepadanya, dia berkata:
“قد يتحالفون مع بعض الأحزاب الملحدة من شيوعيين وغيرهم فإذا أنكر عليهم هذا التحالف الأثيم قالوا: إنهم أسلموا”، فإذا نشب بينهم وبين حلفائهم قالوا: إنهم كفار شيوعيين”. 
“Terkadang mereka bersatu dengan kelompok-kelompok yang kafir dari para syi’ah dan yang selain mereka, jika diingkari atas mereka terhadap persatuan yang berdosa ini maka mereka mengatakan: “Mereka telah berislam”, jika tidak beterkaitan antara mereka dan antara persatuan mereka (ya’ni berpecah) maka mereka mengatakan: “Sesunguhnya mereka adalah orang-orang kafir lagi orang-orang syi’ah”.
Perkataannya ini telah terhunuskan ke leher Asy-Syaikh Robi dan menjadi bumerang atas dirinya sendiri, ketika dia bermajelis dengan murid-muridnya atau kawan-kawannya yang membenci Syaikhuna, dia menuduhkan kepada Syaikhuna dengan berbagai tuduhan yang tidak bisa dia pertanggung jawabkan, ketika ada dari murid-muridnya atau kawan-kawannya menyebarkan ucapannya dan perkataannya maka dia pun ingkari bahwa dia tidak mengatakannya atau dia tidak menuduhkannya itu kepada Syaikhuna, kasihan muridnya pun jadi kambing hitam, dicap sebagai pendusta namun sekarang perkataan itu dia benarkan dan nampakkan.
Dan perkataanya ini pula telah terhunuskan ke leher Muhammad bin Abdillah Ar-Rimiy dan Muhammad bin Abdil Wahhab Al-Washobiy dan jaringan mereka, karena mereka membela-bela Rofidhoh dan tidak mengkafirkannya, ketika diingkari dengan lisan ringan mereka berkata: “Sesungguhnya mereka adalah muslimun (orang-orang yang beragama Islam)”.
Memang kamu (wahai Luqman) begitu pula jaringan-jaringanmu hebat dan berani menantang serta masih berani juga merasa aman dari makarnya Alloh:
{أَفَأَمِنُوا مَكْرَ اللَّهِ فَلَا يَأْمَنُ مَكْرَ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ} [الأعراف: 99]
“Maka apakah mereka merasa aman dari azab Alloh (yang tidak terduga-duga)? Tidaklah yang merasa aman dan azab Alloh kecuali orang-orang yang merugi”. (Al-A’rof: 99).
Kasihan dirimu wahai Luqman! Betapa banyak sunnah sayyiah (metode yang jelek) yang kamu lakukan dan yang kamu da’wahkan kini banyak yang mengikutinya:
«وَمَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً، فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ، كُتِبَ عَلَيْهِ مِثْلُ وِزْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا، وَلَا يَنْقُصُ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ».
“Barang siapa yang membuat sunnah-sunnah (metode-metode) di dalam Islam dengan sunnah yang jelek lalu diamalkan (oleh orang-orang) setelahnya maka ditulis atasnya semisal dosa orang yang mengamalkannya, dan tidak terkurangi dari dosa-dosa mereka sedikit pun”. Diriwayatkan oleh Muslim dari hadits Jarir bin Abdillah dari Rosululloh (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ).
Dahulu Luqman Ba’abduh dan jaringannya mengingkari kemungkaran namun kali ini mereka mendiamkannya bahkan melakukannya, dahulu mereka mengingkari seorang majhul (penulis gelap) semisal Abdurrohman Ath-Tholibiy namun ternyata ketika mereka menjalankan makar atas Ahlissunnah di Dammaj mereka pun meniru dan menerapkan prilaku Abdurrohman Ath-Tholibiy, mereka menulis celaan dan penghinaan terhadap Syaikhuna, muncul diantara mereka dengan menamakan diri Abu Umar bin Abdul Hamid tulisannya dicetak oleh makatabah Al-Ghuroba’ Solo dan tidak ada seorang pun yang terang-terangan dari mereka mengingkari itu, muncul pula Abu Mahfudz bin Ali, muncul pula Abdulloh bin Abdirrohman, semuanya mengikuti prilaku Abdurrohman Ath-Tholibiy:
«يُؤْتَى بِالرَّجُلِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، فَيُلْقَى فِي النَّارِ، فَتَنْدَلِقُ أَقْتَابُ بَطْنِهِ، فَيَدُورُ بِهَا كَمَا يَدُورُ الْحِمَارُ بِالرَّحَى، فَيَجْتَمِعُ إِلَيْهِ أَهْلُ النَّارِ، فَيَقُولُونَ: يَا فُلَانُ مَا لَكَ؟ أَلَمْ تَكُنْ تَأْمُرُ بِالْمَعْرُوفِ، وَتَنْهَى عَنِ الْمُنْكَرِ؟ فَيَقُولُ: بَلَى، قَدْ كُنْتُ آمُرُ بِالْمَعْرُوفِ وَلَا آتِيهِ، وَأَنْهَى عَنِ الْمُنْكَرِ وَآتِيهِ»
“Didatangkan seorang lelaki pada hari kiamat, lalu dilemparkan ke dalam neraka, maka keluarlah usus (atau sesuatu dari isi) perutnya, dia berputar padanya sebagaimana berputarnya keledai pada tali pengikatnya, maka penduduk neraka berkumpul kepadanya, mereka berkata: Wahai Fulan ada apa denganmu? Bukankah dahulu kamu memerintahkan kepada kebaikan, dan melarang dari kemungkaran? Dia pun berkata: “Tentu, dahulu aku memerintahkan kepada kebaikan namun aku tidak melakukan (kebaikan itu), dan aku melarang dari kemungkaran namun aku melakukannya”. Diriwayatkan oleh Muslim dari Usamah bin Zaid dari Rosululloh (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) .
Sungguh memalukan dan menghinakan, mereka beramai-ramai mengajak manusia kepada kebaikan namun mereka selalu menyelisihi ajakan mereka sendiri, sekarang mereka mulai lagi berorasi, berbicara dan berpidato di hadapan manusia, sungguh sangat mengena perkataan Rosululloh (صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) untuk dijadikan hujat atas mereka:
«ليلة أسري بي رأيت قوما تقرض ألسنتهم بمقاريض من نار – أو قال: من حديد – قلت: من هؤلاء يا جبريل؟ قال: خطباء من أمتك». 
“Ketika aku di-isra (dinaikan ke langit) aku melihat suatu kaum di parut lidah-lidah mereka dengan parutan dari api –atau dia berkata-: “Parutan dari besi” Maka aku bertanya: “Siapa mereka wahai Jibril?” Jibril menjawab: Para khotib dari umatmu”.Diriwayatkan oleh Ahmad dari Anas bin Malik.  
Dahulu mereka mentahdzir dari prinsip Hasan Al-Banna: “Tolong menolong kepada perkara yang kita sepakati dan saling memberi udzur dalam perkara yang kita perselisihkan”, ternyata sekarang mereka terapkan prinsip itu, ketika dahulu ada yang konsultasi kepada mereka untuk kuliah di Universitas Islam Madinah maka mereka melarang karena kata mereka para pengajarnya banyak hizbiyyun namun sekarang mereka merubah ucapan itu.
Mereka dahulu dengan terang-terangan mengkafirkan Rofidhoh bahkan ada dari mereka mengkafirkan Syi’ah secara umum namun karena sebab menerapkan prinsip Hasan Al-Banna itu mereka pun memberi toleransi terhadap fatwa Muhammad Ar-Rimiy dan fatwa ulama mereka dengan berbagai macam alasan:
{قَاتَلَهُمُ اللَّهُ أَنَّى يُؤْفَكُونَ} [التوبة: 30]
“Semoga Alloh binasakan mereka, bagaimana mereka sampai berpaling?”. (At-Taubah: 30).
Demikian jawaban singkat ini semoga bermanfaat untuk siapa saja yang menginginkan kebenaran.
وصَلَّى اللَّهُ على مُحَمَّد وَآلِهِ وَصَحْبِه وَسَلِّم.