Sabtu, 28 Desember 2013

Nasihat dalam Menghadapi Fitnah Luqman Baabduh



بسم الله الرحمن الرحيم

لا يشكر الله من لا يشكر الناس
"Tidak bersyukur kepada Allah, barangsiapa yang tidak mensyukuri (berterima kasih) kepada manusia"

Asy-Syaikh al-'Allamah Yahya bin 'Ali al-Hajuri
الشيخ العلامة يحيى بن علي الحجوري
-حفظه الله ورعاه-

'Tahdzir' (Peringatan/Waspada) dari
Luqman Ba'abduh si Hizbi Hina

(Nasihat dalam Menghadapi Fitnah
Luqman Ba’abduh si Hizbi Hina)



http://youtu.be/vARVDnM3vIo

Syaikh Yahya al-Hajuri - Nasihat dalam Menghadapi Fitnah Luqman Ba’abduh si Hizbi Hina [Video]

Darul Hadits Dammaj Yaman
حرسها الله
20 Dzulhijjah 1429H
(18 Desember 2008M)

Ikhwah Indonesia –hafizhahumullahu-, janganlah menyibukkan diri mereka dalam membantah seorang yang hina! Ya Akhi, siapa Luqman (Ba’abduh) ini? Siapa dia Luqman ini? Dia tidak dikenal dalam kafilah, dan tidak pula dalam kelompok, tidak di sini tidak pula di sana.
Dia berhasil mempengaruhi sebagian orang `ajam di sana, lalu menghalau mereka, menghalau mereka sebagaimana Ja`far (Umar Thalib) menghalau mereka.
Dia hendak menyia-nyiakan mereka. Demi Allah, orang ini
(Luqman Ba’abduh)
adalah sumber kerugian.
...dst.

Sumber

Di sini.
Bukti Celaan Luqman terhadap Darul Hadits Dammaj dan Ulamanya Di sini.

KORBAN BERDARAH DARI PADUKA LUQMAN BAABDUH

"Iya pak itu ulah mereka insyaAlloh..." kata Pak Iwan mengakhiri ceritanya. 

"Jadi mereka yang menjadi MARLINA JADI-JADIAN itu, pak?" saya mencoba untuk meminta penegasan dari Pak Iwan...

"Iya pak insyaAlloh mereka berdua, karena waktu sms-sms itu dikirim saya ada disana" ucap Pak Iwan mencoba meyakinkan saya....

Mereka berdua yang dimaksud oleh Pak Iwan adalah Pak Abu dan salah satu orang penting di dalam pondok yang sebut saja namanya Abdi Buletin ...

Pak Iwan adalah teman baik saya, beliau orang yang baru ngaji di pondok, saya kenal dengan beliau karena beliau tetangga satu kompleks perumahan dengan saya, mungkin karena Pak Iwan ini masih baru ngaji di pondok jadi fitrohnya masih lurus belum tercampuri dengan manhaj pondok yang menyimpang.....sehingga ketika beliau melihat kedzaliman maka beliau berusaha merubahnya...dan Alhamdulillah rupanya beliau tidak ridho melihat kedzoliman yang dilakukan oleh sindikat jahat tersebut...kepada saya dan keluarga saya.

Terbongkar sudah siapa MARLINA sebenarnya....istri saya tersenyum tipis ketika mendengar berita ini....dan bagi saya ini adalah hal yang sangat melegakan karena kecurigaan dan firasat saya akhirnya terbukti....Alhamdulillah

Mungkin itu secara ringkas cerita tentang MARLINA KARPOV yang bisa saya ingat...

=============================================================

Profil Pak Abu sudah saya tampilkan di Tragedi Karimata...

Adapun motif dari Pak Abu dalam melakukan rekayasa kejahatan terhadap diri saya, tergambar dari cerita AGF kepada saya, sewaktu sebelum semua peristiwa keji ini terjadi....pada waktu semuanya masih baik-baik saja......

AGF dengan jujur mengaku pernah mengadakan pertemuan rahasia dengan Pak Abu di Rembangan....Rembangan adalah sebuah obyek wisata hotel dan pemandian di pegunungan sebelah utara kota Jember......dalam pertemuan rahasia itu Pak Abu berjanji, akan mengangkat AGF sebagai wakilnya apabila Pak Abu telah berhasil menggulingkan posisi saya di Perusahaan Cabang Jember!...

AGF menceritakan hal rahasia ini dalam rangka menasehati saya agar berhati-hati terhadap pak Abu....

Siapakah AGF....akan saya bahas nanti InsyaAlloh

Dan sekarang yang menjadi pokok bahasan kita adalah siapakah Abdi Buletin ini..dan apakah motif yang membuat dia melakukan hal yang keji ini....

Abdi Buletin dalam pandangan saya adalah sosok anak muda yang menggelora ambisinya untuk mencapai kedudukan yang tinggi di sisi Ustadz Kibar...dan harapan tersebut terkabul setelah dia mendapat jabatan penting di dalam pondok sebagai pengurus buletin dakwah...

Dan menurut analisa saya.....Latar belakang yang menjadi motif dia untuk melakukan perbuatan keji tersebut adalah.....adanya suatu keadaan yang membuat dia merasa tersaingi......

Keberadaan saya rupanya telah mengusiknya...ya keberadaan saya di dalam pondok yang masih baru dan belum berjasa banyak bagi pondok...namun sudah menjadi buah bibir diantara orang-orang pondok......dan bahkan saat itu saya mendapatkan amanah dari ustadz kibar untuk menjadi pengajar/ustadz di pondok... 

Menurut analisa saya inilah motif Abdi Bulletin dalam melakukan rekayasa nan keji ini.

Motif ini tergambar...dari sapaan pertamanya ketika kami bertemu di masjid seusai ta'lim hari ahad itu...

Dia datang mendekati saya...sambil berkata 

"Oh ini rupanya....pak juned yang banyak disebut-sebut orang itu!"...sambil tertawa...yang saya tidak paham maknanya....

Kemudian berlalu begitu saja meninggalkan saya yang terbengong.....kebingungan.

Dan motif ini juga tergambar ketika dia bersama Pak Abu mengajukan pertanyaan seputar permasalahan halal/haromnya methanol kepada Ustadz Kibar...sampai akhirnya Ustadz Kibar memberikan fatwa tentang hukum methanol.

Pertanyaan yang sangat tendensius......menurut saya pertanyaan ini sarat sekali akan kepentingan 

Karena tidak dapat dipungkiri bahwa perusahaan kami saat itu sedang gencar-gencarnya menggunakan methanol dalam proses produksinya dan ketergantungan perusahaan pada methanol ini tercium oleh sindikat jahat tersebut.....

Singkat cerita... berkat masukan dari Abdi Buletin yang kebetulan mahasiswa farmasi ini....Ustadz Kibar mengeluarkan fatwa bahwa methanol hukumnya sama dengan alkohol/ethanol....yang kemudian karena fatwa ini semua karyawan kami menjadi gelisah....karena kalau mereka masih bekerja di tempat kami...artinya mereka harus memperjualbelikan methanol...dan menuangkannya...dan ini adalah hal yang termasuk dilarang oleh syariat agama ini menurut Ustadz Kibar.

Padahal seperti yang kita tahu bersama....Methanol dan Ethanol adalah dua materi yang berbeda...dan silahkan browsing sendiri perbedaan antara keduanya.

=============================================================
Saya kembali ke tulisan Resolusi tahdzir yang mubadzir...

Sms itu.... sms itu datangnya dari karyawan kami yang ada di Surabaya...sebut saja namanya Abdu

Dia menyatakan mengundurkan diri dari perusahaan.....dan mulai besok pagi dia sudah tidak bisa masuk kerja lagi....

Spontan saya mencoba menahan dia agar dapat memberi saya kelonggaran waktu untuk sekedar mencari pengganti....
Karena posisi Abdu saat itu sebagai teknisi, sehingga tidak mudah untuk digantikan ...butuh waktu training dll....namun dia tetap memaksa untuk mengundurkan diri dengan segera...besok pagi dia sudah tidak bisa bekerja lagi....

Saya kemudian mengejarnya dengan pertanyaan ....kurang lebih demikian..."Ada apa sebenarnya..kok sepertinya tidak lazim cara keluar seperti ini?"

Cara keluar seperti ini adalah cara keluar yang tidak baik menurut saya...

Saya teringat ketika Abdu masuk waktu itu...saya menerima dia dengan itikad yang baik...ya dengan itikad ingin menolong saudara sesama muslim yang mengalami kesusahan....

waktu itu Abdu kebingungan mencari pekerjaan......dia datang ke tempat saya di Surabaya dengan naik sepeda angin yang ukurannya tidak sebanding dengan yang menungganginya....kasihan sekali.....

Karena kasihan itulah saya menerimanya...bukan karena keahlian dia ataupun ijazahnya.....karena dia tidak memilki keahlian ataupun secuil ijazah di bidang tinta dan printer.....

Kemudian perusahaan kami mengajarinya mulai dari nol...sampai akhirnya dia bisa jadi teknisi dan itu semua butuh waktu yang tidak singkat...apakah Abdu tidak ingat semua itu?" 

Saya terus mencoba mendesaknya agar mau sesaat saja memberikan waktu kepada saya untuk sekedar merekrut orang baru untuk menggantikan posisinya...

Namun dia bersikeras untuk tetap keluar dengan segera...dan kemudian terbongkarlah latar belakang Abdu mengundurkan diri dengan tergesa-gesa...

Abdu menegaskan bahwa ini semua disebabkan adanya nasehat dari Ustadz Hariadi Surabaya (beliau adalah guru saya dan saya sampai hari ini masih sangat menghormati beliau hafidhohulllohu ta'ala) untuk meninggalkan saya...semua orang-orang pondok di Surabaya dan di Jember sudah diperingatkan untuk segera menjauhi saya.......kurang lebih demikian penuturan Abdu tersebut

============================================================================

Singkat cerita, malam itu saya sudah menginjakkan kaki di Surabaya dalam rangka tabayyun atau meminta klarifikasi kepada ustadz yang bersangkutan dengan masalah ini...

Masih harus menunggu pagi untuk menemui Ustadz Hariadi...dan malam itu kami memutuskan untuk bermalam di Masjid....

Ustadz Hariadi menerima saya dengan baik...sebagaimana seorang guru menerima muridnya.....dan ustadz tersebut ternyata tidak sedikitpun mengungkit-ungkit masalah tahdzirnya kepada saya.....jadi saya berkesimpulan bahwa beliau sebenarnya tidak mengeluarkan fatwa apapun tentang diri saya...sekali lagi .....tersebarnya kabar ini....kabar bahwa Ustadz Hariadi mengeluarkan tahdzir atas diri saya adalah suatu KEBOHONGAN yang besar....dan kebohongan ini adalah ulah dari sindikat jahat yang membolak-balikkan dan mencampur adukkan fakta dengan kebohongan....wal'iyyadzubillah...

==================================================================

Rupanya....sindikat ini jauh-jauh datang dari Jember ke Surabaya....kemudian mendatangi Markaz Pengikut Ustadz Kibar Di daerah Jojoran Surabaya dan menebarkan fitnah disana.....kemudian melanjutkan perjalanan safarinya ke jalan Ikan Dorang di daerah dekat pelabuhan Tanjung Perak Surabaya...

Di sebuah rumah di jalan Ikan Dorang....sindikat ini mengadakan rapat rahasia dengan para karyawan saya di Surabaya yang telah terhasut...dan hasil rapat itu adalah sebuah rencana jahat untuk menghancurkan saya...

Disana...di dalam rapat itu semua karyawan yang terhasut oleh ambisi dan fitnah tersebut dimintai keterangan satu persatu tentang kejelekan2 yang pernah saya lakukan...

Dan kemudian data palsu yang penuh pemutar balikan fakta tersebut akhirnya terkumpul
Dan kumpulan data palsu itu...termasuk rekaman suara testimoni salah seorang karyawan ....yang namanya sebut saja Dedi....dikirimkan ke ustadz kibar....ya data-data palsu itu dilengkapi dengan tanda tangan yang penuh kedustaan, kemunafikan dan kedurhakaan dari para karyawan yang terhasut dan juga dipenuhi dengan ambisi untuk mendirikan usaha sendiri-sendiri tersebut.....

Ya..data tersebut dikirimkan ke Ustadz Kibar...agar permohonan sindikat jahat ini dapat dikabulkan...dan para karyawan dapat memetik buah dari rekayasa kejahatan tersebut....Allohul Musta'an...hanya kepada Alloh sajalah kami mengadu...

=======================================================================
Sindikat ini adalah sindikat yang berbeda dari sindikat MARLINA...bukan pak Abu dan juga bukan Abdi Buletin......tapi menurut analisa saya...mereka tetap dalam satu sindikat yang sama...

Pimpinan sindikat yang ke Surabaya ini memiliki nama sandi AGF

AGF adalah sebuah kata sandi.....kata sandi buatan AGF sendiri ...AGF pernah meminta saya untuk memanggilnya dengan kata sandi tersebut...AGF ini mengaku seorang yang senior dalam dakwah...13 tahun lamanya dia bersama dakwah Ustadz Kibar ...dia pernah menjadi komandan laskar....jadi dia banyak belajar strategi.....dia pernah mengajari saya strategi berperang China Sun Tzu...(bener gak tulisannya)....dan dia juga banyak bercerita kepada saya strategi-strategi cara melumpuhkan lawan dalam pertempuran.

AGF adalah sosok manusia yang sangat tepat untuk bermain pada karakter antagonis.....ya badannya yang mungil...dan gaya memandang yang hampir selalu menempatkan lawan bicara di sudut-sudut mata....dengan gaya bicara yang penuh bisikan dan tanda-tanda....mirip sekali dengan aktor-aktor dalam pewayangan yang memerankan tokoh penasehat yang penuh isyarat dan strategi (baca=kelicikan), 

Apabila kita menyimak sejarah, dalam cerita legenda Kerajaan Majapahit akan kita temui sosok peran tokoh Patih Ramapati di sisi Prabu Raden Wijaya, dia adalah seorang mahapatih dan penasehat yang berwatak licik.....

Ramapati banyak memberikan informasi kepada Prabu Raden Wijaya demi kepetingan politiknya untuk menyingkirkan orang-orang yang tidak dikehendaki keberadaannya.....berdasar dari informasi-informasi yang diberikan oleh Ramapati inilah Raden Wijaya kemudian menindak beberapa tokoh/pejabat kerajaan dengan tindakan yang tidak tepat....sehingga terjadilah banyak pemberontakan waktu itu...salah satunya yang sangat terkenal adalah pemberontakan Ronggolawe...

Nah.... keadaan Ramapati disisi Prabu Raden Wijaya inilah...menurut analisa saya....mirip sekali dengan keberadaan AGF disisi Ustadz Kibar...informasi-informasi yang dimasukkan AGF dapat mudah dipercaya oleh Ustadz Kibar bahkan tanpa perlu tabayyun....dan kemudian mudah pula bagi Ustadz Kibar untuk melakukan interogasi, menjatuhkan vonis bersalah, melakukan penyitaan, melakukan pengusiran, dan sampai akhirnya mengeluarkan tahdzir.....
=======================================================================================

Hanya karena permasalahan jabatannya di perusahaan yang tergusur karena perampingan struktur manajemen, karena waktu itu saya dengan sangat berat hati melakukan perampingan struktur...agar manajemen perusahaan berjalan lebih efektif dan efisien...

Dan juga karena tuntutan AGF terhadap perusahaan agar dia mendapat bagi hasil dari keberhasilan dia menghubungkan perusahaan dengan kustomer di Bandung....dan tuntutan itu tidak dapat dikabulkan oleh perusahaan dengan pertimbangan....tuntutan tersebut tidak termasuk dalam perjanjian yang dibicarakan sebelumnya....

Dan saya sudah mencoba untuk memberikan uang tanda terima kasih....yang nilainya memang tidak sebesar tuntutan AGF.....tapi ternyata ditolaknya mentah-mentah uang itu...sambil mengatakan bahwa dia tidak butuh dengan uang saya....

Menurut analisa saya.....inilah kurang lebih yang menjadi motif AGF utuk melakukan konspirasi jahat ini....

Pak Abu, AGF, dan Abdi Buletin adalah orang-orang dekat Ustadz Kibar.....Kalau orang-orang jama'ah (keturunan Arob) yang ada di pondok dikategorikan sebagai orang-orang di Ring satu...maka dapat dikatakan Pak Abu, AGF, dan Abdi Buletin adalah orang-orang khusus yang ada di Ring Kedua yang mengitari Ustadz Kibar....

Pak Abu adalah tangan kanan Ustadz Kibar dalam menjalankan bisnisnya...
AGF adalah tukang pijat sekaligus informan bagi Ustadz Kibar
Abdi Buletin adalah kader dan aktifis dakwah kampus...sebagai ujung tombak dakwah kelompok Ustadz Kibar di Kota Jember...

=======================================================

Sindikat yang penuh kelicikan, fitnah, dan ambisi untuk menghancurkan yang dipimpin oleh AGF ini dapat melihat peluang dari kebiasaan buruk ustadz kibar yang mudah mengeluarkan tahdzir....dengan data-data palsu itu mereka berharap Ustadz Kibar dapat segera menjatuhkan vonisnya kepada diri saya sebagai seorang yang bersalah, berbahaya dan harus segera dijauhi.

Karyawan perusahaan kami hampir semuanya orang pondok...dan kami merekrut mereka sekali lagi bukan karena keahlian atau ijazah mereka...kebanyakan mereka adalah orang-orang yang tidak berpendidikan tinggi...rata-rata ijazah yang mereka miliki hanyalah setingkat SD....kami merekrut mereka karena kasihan melihat keadaan mereka.....dan keinginan yang besar untuk menolong mereka...

Diantara mereka ada yang sebelumnya tukang jualan bubur keliling...ada juga yang kuli batu...bahkan ada yang mantan penjual minuman keras pada acara-acara tayuban.....mereka oleh perusahaan kemudian ditraining dari nol...

Dari bagaimana cara memegang mouse...mengoperasikan windows....menjalankan software2....membongkar dan memperbaiki printer....dan kemudian perusahaan kami melengkapi mereka dengan sepeda motor, laptop dan handphone....dan perusahaan memberikan gaji kepada mereka dengan gaji yang layak...bahkan tergolong tinggi untuk ukuran tamatan SD..

Contohnya, ada salah satu karyawan yang lulusan SD mengambil gaji kotor sebesar 65 ribu perhari...

Disini saya menggunakan istilah mengambil gaji.....karena perusahaan kami jarang memberikan gaji tersebut secara langsung, melainkan mereka para karyawan tersebut saya beri kebebasan untuk mengambil sendiri gaji-gaji mereka langsung dari keuangan perusahaan....bahkan saya sangat jarang untuk meminta laporan keuangan kepada mereka...dikarenakan kepercayaan perusahaan yang sangat tinggi kepada mereka....

Disamping itu perusahaan kami masih memberikan waktu untuk sholat, ta'lim, dan bahkan bila ada daurroh-dauroh diluar kota...maka keberangkatan mereka juga dibiayai oleh perusahaan.....

Namun sangat disayangkan ternyata semua usaha untuk kebaikan ini hanya bertepuk sebelah tangan....Sungguh air susu itu telah dibalas dengan air racun yang sangat mematikan...

Keadaannya seperti sebuah syair "Aku dulu mengajarinya bermain pedang...setelah mahir...ternyata dia menusukku dengan pedangnya" .....

Motif para karyawan untuk menghancurkan saya tergambar dari aktifitas mereka pada masa-masa sebelum kejadian itu....ada diantara mereka yang korupsi...ada juga yang ngemplang order perusahaan......motif yang paling nampak dari mereka adalah KESERAKAHAN terhadap harta...

Diantara mereka bahkan...ada yang telah mempersiapkan usaha baru mereka...jauh sebelum kejadian-kejadian nan keji ini...mereka menjalin kerjasama dengan orang pondok yang memilki modal...untuk membuka usaha yang sejenis....

Sungguh sangat terlihat sekali harapan para karyawan yang telah terhasut dengan ambisinya ini....Harapan mereka dengan hancurnya usaha saya...mereka akan dapat dengan leluasa membuka usaha sendiri-sendiri...toh selama ini mereka sudah memiliki keahlian yang dapat menghasilkan uang yang banyak tanpa harus membutuhkan saya dan perusahaan kami lagi...

Dan dengan gulung tikarnya perusahaan kami berarti mereka telah berhasil menumbangkan 1 pesaing...sehingga ada potensi besar terhadap kelanggengan usaha mereka kedepan...

Melihat kenyataan seperti itu tetap saja tidak ada satupun diantara mereka (para karyawan di Surabaya) yang oleh perusahaan kami dikenakan PHK disebabkan karena kejadian itu....

karena saya masih menganggap mereka seperti saudara sendiri...dan saya mencintai mereka karena Alloh.

Semua informasi ini saya dapat dari mereka sendiri...para karyawan yang telah terhasut oleh ambisinya..setelah mereka keluar dari perusahaan...mereka meminta maaf...seraya meminta kemakluman saya atas berdirinya usaha-usaha mereka...


Namun sayang...semuanya terlambat...nasi sudah menjadi bubur.....Data itu sudah terlanjur masuk ke Ustadz Kibar....

=====================================================


Sesampainya saya di Jember, kegelisahan dan kekhawatiran mulai menghinggapi saya, Ingatan tentang kisah-kisah ikhwan dan Akhwat yang pernah menjadi korban kebiasaan buruk Ustadz Kibar bergelayutan, berloncatan, hilir mudik memenuhi alam pikiran saya....

Dengan menelaah kembali rekam jejak pergerakan orang-orang pondok beserta Ustad Kibarnya di kota Jember, Saya mulai bisa memahami bagaimana kiranya kekerasan dan fitnah bisa menjadi cetak biru pergerakan orang-orang pondok di kota Jember ini, rasa lapar...atau mungkin tepatnya lapar mata...yang mengakibatkan munculnya ketamakan..dibantu dengan adanya rezim Ustadz Kibar yang dengan semena-mena menerapkan hukum-hukum yang diklaim sebagai hukum Islam....hingga terjadilah aksi anarkisme dan barbarisme yang melawan hukum negara...mereka menjadi polisi-polisi dan hakim-hakim ilegal....yang kapan saja dengan membabi buta siap akan membabat habis, membumihanguskan, dan menghancurleburkan siapapun yang tidak mencocoki ideologi dan keinginan mereka...

Mengeluarkan resolusi tahdzir yang mubadzir yang saya angkat menjadi judul tulisan ini adalah CETAK BIRU PERGERAKAN PADA PROFIL SEORANG USTADZ KIBAR.....yang cetak biru ini akhirnya berdampak sistemik bagi setiap manusia yang menjadi korbannya...

1. Ustadz Gufron Surabaya......nama beliau ustadz gufron...sangat terkenal di Surabaya waktu itu....waktu sebelum beliau memutuskan berangkat jihad ke Ambon...beliau termasuk ustadz besar di Surabaya....Alhamdulillah saya pernah belajar kepada beliau...walaupun hanya sebatas belajar bahasa Arob.... 

Menurut cerita dari Yudi salah seorang orang pondok yang tinggal di daerah Manukan Surabaya....Ustadz Gufron pernah mengalami patah tulang rusuk karena "DISEKOLAHKAN" oleh laskar....beliau disekolahkan dengan sebab beliau menentang perintah Ustadz Kibar......

Kisahnya kurang lebih demikian...

Pada suatu malam.... di Ambon tengah diadakan rapat laskar...dan ustadz gufron datang terlambat....rupanya keterlambatan kedatangan beliau ini mengundang berita yang tidak sedap tentang diri Ustadz Gufron...sehingga sepulang dari rapat yang juga di hadiri oleh ustadz kibar tersebut...beliau langsung dijemput oleh 4 orang...yang dengan cekatan membawa beliau ke sebuah rumah kosong...dan beliau dihajar habis-habisan di rumah kosong tersebut hingga patah tulang rusuknya dan kemudian ditinggalkan begitu saja.....

Walaupun demikian Ustadz Gufron masih dapat dikatakan beruntung karena pada akhirnya beliau masih dapat pulang ke Surabaya....

Dan sungguh malang nasib beliau....sesampainya di Surabaya ternyata fatwa ustadz kibar juga telah berkibar-kibar....ya sebuah fatwa peringatan tentang bahayanya Ustadz Gufron......maka karena disebabkan oleh fatwa peringatan bahaya ini jadilah Ustadz Gufron seorang pesakitan yang tercela di pandangan kami saat itu...segudang gosip...dan setumpuk berita-berita negatif tentang Ustadz Gufron berhamburan tersebar luas di kalangan pengikut ustadz kibar di Surabaya....sampai permasalahan pribadi dan permasalahan keluarga Ustadz Gufronpun ikut diungkit-ungkit dengan tanpa ampun...

Sehingga sedikit demi sedikit ustadz gufron mulai terasing....dan tidak diacuhkan lagi keberadaannya....bahkan kami menganggap beliau waktu itu bagaikan seorang narapidana sebuah kasus yang besar....sehingga siapapun yang mendekati beliau....akan mendapatkan celaan yang sama dengan beliau.....bahkan pelajaran bahasa arob yang didirikan oleh Al Akh Yudi Manukan ini dan yang juga saya ikut di dalamnya yang diadakan di sebuah masjid di daerah Kedung Sroko Surabaya itupun akhirnya dibubarkan...dikarenakan ada peringatan bahaya dari Ustadz ZA yang merupakan ustadz di Surabaya dan seorang loyalis Ustadz Kibar....

Sungguh menyedihkan sekali......terakhir saya ketemu beliau (ustadz gufron) di masjid Arroyyan Surabaya....ya...beliau hadir pada dauroh Ustad Muhsin yang kami adakan....wajah beliau tampak lebih tua...badan beliau tampak lebih kurus....dan tubuh beliau sudah tidak tegap lagi seperti dulu......

Semoga Alloh menjagamu ...Ustadz...dan bersabarlah...ustadzku....pertolongan Alloh itu dekat dan pasti akan datang....

Dan saya berterima kasih kepada Akh Yudi Manukan yang telah menceritakan kisah ini didepan kami waktu itu...sehingga setelah cerita itu menyebar banyak orang yang akhirnya paham terhadap keadaan ustadz gufron dan tahu kebiasaan buruk yang ada pada diri Ustadz Kibar.....

2. Ustadzah Khodijah....begitulah namanya kurang lebih..beliau adalah sorang akhwat pengajar para ummahat di pondok....tidak banyak yang saya ketahui tentang diri beliau sebelumnya.....sampai pada suatu saat sampailah kabar tentang beliau kepada saya dari istri saya.....

"Ustadzah Khodijah tadi menangis mas, ada yang memfitnah beliau" begitu kurang lebih penggalan penuturan istri saya ..., Ustadzah Khodijah di fitnah oleh salah satu akhwat di pondok....sampai akhirnya....fitnah ini sampai ke ustadz kibar dan ditelan-telan mentah oleh Ustadz Kibar...sampai akhirnya Ustadzah Khodijah di nasehati dengan keras atau mungkin lebih tepatnya di maki-maki oleh salah satu Ustadz utusan Ustadz Kibar.

Sampai akhirnya berita miring tentang Ustadzah Khodijah ini tersebar luas...dan memaksa beliau harus keluar dari pondok...karena begitu tidak sedapnya berita yang tersebar.

3. Ibrohim Maqshof....yang saya tahu namanya Ibrohim...orang-orang pondok menyebutnya Ibrohim Maqshof karena dia dulu pernah menjadi penjaga maqshof/toko di dalam pondok....banyak masalah sepertinya...tapi saya tidak tahu persis....yang saya tahu nama baik Ibrohim maqshof hancur lebur saat itu... sehingga sayapun yang baru mengenalnya merasa kasihan kepadanya....sampai sepeda motornya Yamaha MIO yang baru saja dia beli dari dealer disita oleh pondok dengan restu Ustadz Kibar....kasihan sekali....

4. Imam Rowatib Masjid..penghafal Al Qur'an juga tidak luput dari kebiasaan buruk ustadz kibar....Mush'ab namanya...usianya masih tergolong sangat muda belia...tapi masyaAlloh beliau adalah salah satu penghafal Al Qur'an terbaik di pondok.....diangkat menjadi Imam Rowatib pada Sholat fardhu di masjid pondok....ya beliau sang penghafal Al Qur'an ini akhirnya harus rela terusir dari pondok....

5. Pak Joko gula merah.....Musibah yang menimpa Pak Joko ini disebabkan karena rekayasa AGF dalam meniupkan berita-berita ke Ustadz Kibar, hal ini saya ketahui dari cerita AGF sendiri, ketika dia mencoba untuk mendekati saya waktu itu dikarenakan perselisihannya dengan Pak Abu, 

AGF sendiri yang mengatakan, sendiri kepada saya, bahwa salah satu skenario rekayasa yang berhasil di jalankan adalah kasus Pak Joko.....kalimatnya kurang lebih demikian..."Pak Joko jatuh dulu juga gara-gara ana, antum tenang saja"......maksudnya adalah saya diminta untuk tenang-tenang saja dalam menghadapi masalah dengan Pak Abu

6. Seorang anak muda....penduduk kampung setempat yang dituduh maling oleh pengawal pondok...(Saya sedang menyusun naskahnya... semoga lekas selesai...dan bisa kita baca bersama)

7. Dua orang santri yang diusir dan dibeberkan kejelekan keduanya di majelis ta'lim....aib mereka diumbar habis-habisan di majelis yang seharusnya berisi ilmu agama.

8. Ustadz Muhsin...terrekam (Saya sedang mencoba menyusun naskah kronologi kejadiannya)

9. Seorang Ulama Besarpun tak luput menjadi korban kebiasaan buruk Ustadz Kibar.......adalah beliau Syaikh Yahya Al Hajury....masih termasuk guru Ustadz Kibar....semuanya terrekam.

Siapa lagi...silahkan ditambah sendiri.....

Kejahatan Luqman Baabduh di Dunia Dakwah Salafiyah

Oleh: Abu Muhammad Abdul Mu’thi Al Maidani

Tidak diragukan lagi bahwa berdakwah kepada jalan Allah merupakan amalan yang mulia. Namun amalan yang mulia ini membutuhkan kemurnian, keikhlasan, dan kejujuran dalam melakukannya. Sehingga dakwah yang diserukan benar-benar kepada jalan Allah bukan kepada kepentingan pribadi maupun kelompok.
Allah berfirman di dalam Al Quran:
قُلْ هذِهِ سَبِيْلِي أَدْعُواْ إِلَى اللهِ عَلَى بَصِيْرَةٍ أَنَا وَ مَنِ اتَّبَعَنِي وَ سُبْحنَ اللهِ وِ مَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ
Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku berdakwah kepada (jalan) Allah dengan hujjah yang nyata, Maha suci Allah, dan aku tidak termasuk orang-orang yang musyrik”. (Yusuf: 108)
Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah berkata: “Seorang yang berdakwah kepada (jalan) Allah adalah seorang yang ikhlas dan ingin menyampaikan manusia kepada (jalan) Allah. Sedangkan seorang yang berdakwah kepada (jalan) selain-Nya, bisa jadi dia mengajak kepada (kepentingan) dirinya sendiri, atau dia mengajak kepada kebenaran supaya dirinya diagungkan dan dihormati di tengah-tengah manusia. Oleh karena itu, engkau akan mendapatinya murka bila manusia tidak melaksanakan apa yang diperintahkannya, dan tidak murka bila mereka melanggar sebuah larangan yang lebih besar dari dirinya sedangkan dia tidak mengajak untuk meninggalkannya.” (Syarh Kitabut Tauhid 1/126 cet. Darul ‘Ashimah).
Ketika kejujuran dalam berdakwah sudah lenyap, maka segala cara akan ditempuh, demi menggapai berbagai ambisi yang terselubung dalam diri orang yang menyerukannya. Pada akhirnya, dakwah itu tidak lagi benar-benar kepada jalan Allah, tetapi justru kepada kepentingan pribadi maupun kelompok tertentu, meskipun dia mengklaim bahwa semua itu merupakan dakwah kepada jalan Allah.
Fenomena seperti ini yang harus kita waspadai bersama. Yaitu kemunculan orang-orang yang mengajak kepada kepentingan pribadi atau kelompok atas nama dakwah kepada jalan Allah. Dengan trik seperti ini, mereka berhasil menggiring manusia kepada berbagai ambisi yang mereka inginkan. Semoga Allah melindungi kita dari kejahatan dan tipu daya mereka.
Allah Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِين
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah, dan hendaknya kalian bersama orang-orang yang jujur.” (AT Taubah:119)
Ustadz Luqman Baabduh dan kiprah dakwahnya
Di antara para da’i yang kami amati sangat ambisius terhadap kepentingan pribadi maupun kelompoknya adalah ustadz Luqman bin Muhammad Baabduh. Orang ini mempunyai segudang cara untuk melakukan hal itu, dengan menunggangi nama dakwah salafiyyah, yang merupakan dakwah kepada jalan Allah. Berikut ini, kami akan menjelaskan beberapa perkara yang menunjukkan hal di atas. Di antaranya:
Memakai fatwa ulama bila ada kepentingan, dan meninggalkannya bila tidak menguntungkan, khususnya bila menghadapi orang-orang yang berseberangan dengannya dan kelompoknya.
Perbuatan ini bukan hal asing pada diri ustadz Luqman Baabduh maupun orang-orang yang semacamnya demi mencapai tujuan-tujuan tertentu yang diinginkan. Di dalam tulisan ini, kami akan membawakan beberapa bukti yang menunjukkan kebenaran apa yang kami katakan tersebut. Sebagai berikut:
- Pada bulan Agustus pada tahun 2003 M, awal kami menginjakkan kaki di Indonesia, sepulang kami belajar dari negeri Yaman, di Ma’had Daarul Hadits yang didirikan guru kami Asy Syaikh Muqbil rahimahullah. Di awal kepulangan kami itu, kondisi dakwah salafiyyah di Indonesia sedang dilanda fitnah perpecahan dan perselisihan yang disulut oleh tahdzir ustadz Luqman Baabduh terhadap RMS (Riau, Makassar, Solo). Maksudnya, dia mentahdzir dari beberapa ustadz yang berasal dari wilayah-wilayah itu, seperti ustadz Dzulqarnain dari Makasssar, ustadz Dzul Akmal dari Riau, ustadz Jauhari dan ustadz Muhammad Nai’m dari solo.
Ustadz Luqman menggunakan istilah RMS (mirip dengan istilah yang digunakan pada gerakan pembrontakan separatis Maluku), karena pada saat itu dia dan kelompoknya baru terlepas dari fitnah Laskar Jihad, yang dibubarkan oleh fatwa Syaikh Rabi’ bin Hadi Al Madkhali hafizhahullah. Sehingga sisa-sisa di masa dia sebagai wakil panglima laskar jihad masih terngiang-ngiang di benaknya.
Waktu itu, saya dan sebagian ustadz sempat mendatangi ustadz Luqman ke pondok pesantrennya di daerah Jember. Kami datang untuk memberikan masukan bahwa yang dilakukannya itu merupakan sebuah ketergesa-gesaan yang hanya akan membuat api fitnah semakin berkobar dan perpecahan akan merebak dimana-mana. Kami juga mengingatkan bahwa yang ditahdzirnya itu adalah ustadz-ustadz yang masih dalam lingkaran ahlus sunnah. Hendaknya dia lebih sabar dan mengupayakan islah dengan mereka. Namun ustadz Luqman Baabduh tidak menerima masukan kami.
Di antara alasannya melakukan itu, dia berhak membela diri dari tuduhan yang selalu diarahkan kepadanya, dengan menggunakan ucapan syaikh Rabi’ yang sempat pernah mengatakan “Aku mengkhawatirkan bahwa Luqman ini adalah seorang Ikhwani yang pura-pura menampakkan diri dengan kesalafiyahan, karena Ikhwanul Muslimin menggunakan cara Taqiyah (bermuka dua) dan pura-pura menampakkan diri dengan kesalafiyahan”. Sehingga terjadilah dialog dengan kami sampai sekitar jam 2 pagi di rumah salah seorang ikhwan.
Perlu diketahui bahwa ustadz Luqman dan kelompoknya bila sudah menjatuhkan tahdzir pada seseorang, mereka akan sangat memusuhinya dan siapa saja yang bersamanya, meskipun itu adalah ikhwan biasa yang pada umumnya hanya ikut-ikutan. Pada kedatangan kami saat itu, ustadz Luqman sempat menegur saya mengapa saya membawa seorang ikhwan yang bernama Abu Laila, karena semata-mata dia termasuk orang yayasan Al Madinah yang berada di bawah binaan ustadz Jauhari dan ustadz-ustadz lain yang dianggap berseberangan dengan ustadz Luqman.
Selanjutnya, hari demi hari, perpecahan dan perselisihan semakin parah di tengah-tengah salafiyyin. Sebagian ustadz sempat menghubungi Asy Syaikh Rabi’ bin Hadi Al Madkhali hafizhahullah guna meminta nasehat atas fitnah yang sedang berkecamuk itu. Dalam beberapa kesempatan, beliau –semoga Allah selalu memberi kekuatan dan kesehatan kepada beliau- tak henti-hentinya menasehatkan untuk menjaga persaudaraan di antara para da’i ahlus sunnah dan menyelesaikan masalah di antara mereka dengan penuh kasih sayang. Lebih kurang demikian nasehat beliau yang masih saya ingat sampai saat ini.
Beberapa waktu kemudian, sekitar tahun 2004, saya dan ustadz Ali Basuki berupaya memprakarsai upaya islah (damai) antara ustadz Luqman dan ustadz-ustadz yang bersamanya dengan ustadz Dzul Akmal dan ustadz Muhammad Wildan. Semua itu kami lakukan dalam rangka mengamalkan nasehat ulama serta menjaga keutuhan dakwah dan persatuan.
Kemudian walaupun kedua belah pihak sudah berada di Jakarta, tetapi akhirnya islah itu gagal terlaksana karena kedua belah pihak bersikeras dengan sikapnya masing-masing. Bahkan, Luqman Baabduh dan ustadz-ustadz yang bersamanya sangat enggan untuk datang ke masjid Fatahilah Depok bila islah itu digelar di sana. Alasannya karena masjid Fatahilah itu adalah masjid hizbi. Meskipun sampai saat ini, klaim itu mentah dengan sendirinya, sebab masjid Fatahilah sering digunakan sebagai tempat kajian ahlus sunnah, dan bahkan didatangi oleh sekian syaikh dan ustadz ahlus sunnah, baik untuk kepentingan mengisi pengajian ataupun sekedar ziarah. Bahkan dalam beberapa waktu belakangan ini, masjid Fatahilah menjadi tempat kajian ustadz Muhammad Umar As Sewed yang dianggap sebagai “da’i kondang” ahlus sunnah.
Kembali kepada masalah islah, sesudah upaya islah yang saya dan ustadz Ali Basuki prakarsai itu gagal, ustadz Luqman Baabduh dan ustadz-ustadz yang bersamanya memaksa saya untuk berbicara dan mengeluarkan tahdzir terhadap ustadz Dzul Akmal dan Muhammad Wildan. Dimulai dengan ustadz Usamah Mahri yang menelpon dan mendesak saya untuk berbicara tentang ustadz Dzul Akmal ke hadapan publik. Kemudian berikutnya ustadz Luqman sendiri yang menelpon dan juga mendesak saya untuk melakukan itu. Bahkan dia mengancam dengan kalimat “Kalau kamu tidak mau bicara, jangan salahkan kami, bila ada ustadz yang berbicara (tahdzir) tentang kamu”.
Sampai saat itu, saya berusaha tidak mengikuti kemauan mereka, dengan alasan bahwa syaikh Rabi’ masih menasehatkan kepada para ustadz ahlus sunnah sebagaimana di atas, tetapi mereka tidak menghiraukan hal itu. Inilah gaya intimidasi yang sudah biasa mereka lakoni, untuk memaksa siapa saja yang tidak sejalan dengan mereka, supaya bisa mengikuti manhaj mereka dalam mentahdzir secara serampangan.
Kemudian masing-masing pihak kembali ke daerahnya. Kami pun kembali ke Yogyakarta untuk membina pondok pesantren Al Anshar yang sedang berlangsung saat itu.
Selanjutnya api fitnah terus berkecamuk. Mulailah ustadz-ustadz yang sekelompok dengan ustadz Luqman Baabduh berbicara atau menulis di media tentang ustadz Dzul Akmal. Di antara mereka yang berbicara atau menulis adalah ustadz Qamar Suaidi, ustadz Muhammad Umar As Sewed, dan yang lainnya. Di tengah-tengah kondisi yang demikian, sempat diadakan daurah nasional di daerah Ngawi, disertai dengan pertemuan para ustadz di rumah pak Muhyi rahimahullah, salah seorang ikhwan Ngawi.
Tanpa kami sadari, ternyata pertemuan itu dimanfaatkan oleh ustadz Luqman dan kelompoknya untuk “menyidang” kami yang sampai saat itu belum kunjung berbicara atau mentahdzir ustadz Dzul Akmal.
Dalam menghadapi fitnah seperti ini, sekali lagi kami berupaya mengikuti nasehat Syaikh Rabi’ yang sampai saat itu masih selalu menasehatkan untuk menjaga persaudaraan, dan membuka ruang saling memahami antara satu dengan yang lain dipenuh kasih sayang.
Tapi apa boleh dikata, sepulang acara itu kondisi semakin runyam dan panas. Bahkan api fitnah menjalar masuk ke pondok pesantren yang sedang kami bina. Para ahli fitnah dari kalangan orang-orang yang jahil terus menyebarkan fitnahnya di tengah-tengah pondok pesantren. Sampai mereka berhasil menggelar majlis rapat, yang juga dihadiri ustadz Luqman dan beberapa ustadz yang sejalan dengannya, di kantor majalah Syari’ah, dalam rangka mempermasalahkan kami dan ustadz Ali Basuki yang tidak pernah menyinggung masalah fitnah yang sedang terjadi di antara ustadz-ustadz, dan hanya menyibukkan para santri dan ikhwan dengan ilmu.
Di majlis yang sama, salah satu orang jahil itu mengatakan bahwa dia sangat mempercayai kami dan ustadz Ali sebelum mengetahui kondisi fitnah, namun kemudian hatinya hancur berkeping-keping, karena ternyata kami berdua tidak pernah memberitahukan kepada mereka perihal fitnah yang sedang terjadi, dan hanya menyibukkan mereka dengan ilmu. Hal ini didengar dan disaksikan oleh seisi majlis, tetapi tak seorang pun dari kalangan para ustadz itu yang bergeming, baik ustadz Luqman maupun yang selainnya. Seolah-olah kami telah melakukan kesesatan yang nyata dengan tidak berbicara atau mentahdzir ustadz Dzul Akmal dan hanya menyibukkan para santri dan ikhwan dengan ilmu.
Maka akhirnya datang juga saat-saat yang mereka ancamkan kepada kami. Ustadz Luqman mentahdzir kami di tengah-tengah kami sedang semangat mengajak para santri dan ikhwan untuk menyibukkan diri dengan ilmu dalam menghadapi api fitnah. Para santri dan ikhwan dilarang untuk menghadiri majlis kami yang membahas tentang adab menuntut ilmu dengan vonis sebagai majlis pemecah belah. Dengan itu, kami pun dimusuhi dan diboikot oleh satu pondok pesantren, kecuali hanya segelintir orang yang masih mau percaya kepada kami. Yang lebih menyakitkan kami, para santri kami diisolir dari kami, sehingga kami merasakan betapa hebatnya pemboikotan mereka, tatkala kami tidak mau mengikuti kemauan mereka.
Dengan kondisi yang sedemikian mencekam itu, tentunya segala kebaikan yang selama ini kami jalani dalam proses belajar mengajar pun terhenti, yang ada hanya amukan api fitnah. Bahkan pondok pesantren menjadi bubar sebagai korban api fitnah mereka. Pada waktu itu, saya hanya berfikir bagaimana cara memadamkan api fitnah ini sehingga tidak terus bertambah parah dan memakan korban lebih banyak. Akhirnya, kami pun memutuskan untuk mengutarakan keinginan baik kami kepada ustadz Abdurrahman Lombok di Muntilan dan ustadz Abdul Jabar di Yogyakarta. Mereka meminta kami untuk mengalah dan berbicara tentang Dzul Akmal.
Kami pun menyepakatinya dengan hati yang sangat berat. Karena Kami sebenarnya mengetahui dan menyadari bahwa hal ini menyelisihi nasehat Syaikh Rabi’. Semoga Allah mengampuni segala dosa dan kesalahan kami.
Pasca kami berbicara tentang ustadz Dzul Akmal, kondisi pun mulai tenang di pondok pesantren kami, yang hanya tinggal menyisakan puing-puing kepedihan dari kobaran api fitnah yang mulai redup. Di dalam hati, kami selalu bertanya-tanya inikah manhaj salaf yang diajarkan oleh para ulama? Di manakah letaknya sikap yang selama ini selalu disuarakan di majelis-majelis ilmu bahwa ahlus sunnah mengikuti nasehat para ulama?
Memang kejujuran itu mahal. Terlebih lagi tatkala kejujuran itu bertentangan dengan kepentingan dan ambisi yang terpendam di dalam dada. Kedustaan tidak mesti berupa ucapan. Terkadang kedustaan dibuktikan oleh tindakan nyata. Bila kejujuran telah tiada dan kedustaan menjadi nyata maka kejahatan pun akan merajalela.
Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
‏إِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّوَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَصْدُقُ حَتَّى يَكتب عند اللهَ صِدِّيقًا وَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَكْذِبُ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا
“Sesungguhnya kejujuran itu membawa kepada kebaikan, sedangkan kebaikan itu membawa kepada surga. Sesungguhnya seseorang yang senantiasa jujur, hingga dia ditulis di sisi Allah sebagai seorang yang sangat jujur. Dan sesungguhnya kedustaan itu membawa kepada kejahatan, sedangkan kejahatan itu membawa kepada api neraka. Sesungguhnya seseorang yang senantiasa dusta, hingga dia ditulis di sisi Allah sebagai pendusta.” (HR. Al Bukhari dan Muslim dari Abdulah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu).
Pada tahun 2005 M, dua orang syaikh dari negeri Yaman datang ke Indonesia, yaitu Syaikh Abdullah Al Mar’i dan Syaikh Salim Bamuhriz hafizhahumallah. Keduanya berupaya mengislahkan pihak-pihak yang bertikai. Pada akhirnya islah pun terwujud, dengan kesimpulan bahwa masing-masing pihak adalah ahlus sunnah, serta masing-masing pihak mempunyai kesalahan dan rujuk darinya. Ternyata penyimpangan manhaj yang sebelumnya mereka tuduhkan sebagai sesuatu yang sangat membahayaka tidak sebagaimana hakekatnya. Bahkan pada pihak mereka pun terjadi kesalahan-kesalahan yang mereka mau tidak mau harus rujuk darinya.
Semua ini mengingatkan kami dan juga para pembaca sekalian mengenai penerapan tahdzir yang selama ini disuarakan oleh Ustadz Luqman Baabduh dan kelompoknya itu. Sudah benarkah penerapan tahdzir mereka? Apa sebenarnya yang melatarbelakangi tahdzir mereka? Sudahkah mereka jujur dalam mengikuti nasehat para ulama?
Pada kenyataannya, pasca islah tahun 2005 M, masih banyak praktek-praktek tahdzir semacam itu dilakukan ustadz Luqman Baabduh dan kelompoknya, tetapi dengan cara yang lebih samar dan licik.
Adapun tahdzir ustadz Luqman Baabduh dan kelompoknya, yang belakangan ini terjadi terhadap ustadz Dzulqarnain dengan menggunakan ucapan Syaikh Rabi’ hanya sebagai legitimasi, karena tahdzir yang semacam itu sudah lama mereka hembuskan terhadap ustadz Dzulqarnain dan ustadz-ustadz salafi yang tidak sejalan dengannya. Insyaallah akan kami jelaskan secara lebih rinci dalam tulisan berikutnya.
Di sini rasanya perlu kami tegaskan, bahwa kami bukan anti kepada manhaj tahdzir, karena kami mengerti manhaj tahdzir merupakan syariat yang mulia dan bersumber dari Al Quran, Al Hadits, serta dilakukan oleh ulama-ulama besar ahli hadits sampai masa ini. Tentunya sangat dusta bila ada yang mengatakan bahwa kami anti tahdzir, atau digambarkan bahwa kami punya manhaj yang lemah dan sikap yang lembek terhadap ahli bid’ah.
Sungguh benar yang dikatakan oleh para ulama bahwa masalah Al Jarh wat Ta’dil (mencacat dan merekomendasi) hanya boleh dimasuki oleh para ulama. Bahkan di kalangan para ulama, tidak seluruh ulama bisa memasuki pintu Al Jarh wat Ta’dil, kecuali hanya segelintir dari mereka yang mempunyai ketakwaan tingkat tinggi, keilmuan mapan, dan keahlian di bidang ini. Sebab pintu ini adalah pintu yang rawan dimasuki oleh hawa nafsu bahkan untuk orang yang sekaliber ulama. Oleh karena itu tidak sembarang orang boleh berbicara tentang Al Jarh wat Ta’dil. Dan masalah tahdzir berdiri di atas Al Jarh wat Ta’dil.
Syaikh Muhammad bin Abdillah Al Imam pernah mengatakan dalam salah satu ceramahnya, berikut ini:
“Sungguh telah dibuka di masa kita sebuah pintu kejelekan, apakah pintu kejelekan tersebut? Pintu kejelelekan itu adalah masalah Al Jarh wat Ta’dil bagi para penuntut ilmu. Para penuntut ilmu butuh untuk menutup pintu ini, yaitu pintu Al Jarh wat Ta’dil. Tidak ada yang bisa menguasainya dengan baik dan mampu melakukannya kecuali (ulama) yang mumpuni dalam keilmuan, terlepas dari hawa nafsu, berhati-hati dalam (menerima) berita dan menjatuhkan hukum, jauh dari hawa nafsu, balas dendam, dan lain sebagainya.
Engkau bisa perhatikan seorang penuntut ilmu bila bertikai dengan saudaranya, tanpa disadari dia berdusta atasnya, dan melampui batas kepadanya. Ini (yang dilakukannya) bersama penuntut ilmu. Bagaimana dia tidak melampui batas tatkala dia memandang (dirinya sudah pantas) mencacat atau merekomendasi. Ini adalah fitnah. Aku nasehatkan para penuntut ilmu untuk bertaubat kepada Allah dari masuk ke dalam perkara-perkara ini, istiqamah di atas agama, memperbaiki lisan, dan menjaga lisan dari perkara yang tidak boleh diucapkan tentang seseorang.
Bertakwalah engkau kepada Allah dan hendaklah engkau merasa diawasi oleh Allah. Bukan alasan bagi seseorang untuk melepaskan lisannya dengan sekehendaknya, lalu dia belajar (untuk mengatakan) bahwa aku mendengar demikian. Ini tidak cukup, ini tidak cukup.
Telah datang dari hadits Abdullah bin Umar, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
من قال في مؤمن بما ليس فيه أسكنه الله ردغة الخبال
“Barangsiapa yang mengatakan sesuatu tentang seorang mukmin yang tidak ada pada dirinya, niscaya Allah menempatkannya di tempat kotoran penduduk neraka.” (HR. Ahmad dan yang selainnya)
Kita mengetahui dan berjalan di atas hal ini, bahwa Al Jarh wat Ta’dil termasuk perkara yang dikenal (hanya) dilakukan para ulama hadits, mereka berjalan di atas hal itu tetapi dengan ketentuan-ketentuan syari’at. Oleh karena itu, mayoritas para ulama tidak masuk ke dalam pintu ini. Kenapa? Karena mereka lebih mengedepankan keselamatan, mereka lebih mengedepankan keselamatan, padahal mereka adalah ulama. Silahkan baca tentang para salaf, dan lihat siapakah yang menyibukkan diri dengan perkara ini? Mereka adalah para ulama besar, dan mereka hanya sejumlah kecil dari para ulama.
Maka ahlus sunnah –segala puji bagi Allah- berjuang untuk memperbaiki lisan mereka, berbicara dengan kebaikan, berdakwah kepada (jalan) Allah, dan memberi nasehat kepada manusia. Akan tetapi jangan sampai syaithan mempermainkan kita dari pintu-pintu (Al Jarh wat Ta’dil) yang kita tidak menguasainya dengan baik. Kita tidaklah dituntut (untuk) melakukan pintu-pintu (Al Jarh wat Ta’dil) itu. Karena hal itu di luar kemampuan dan kesanggupan kita secara ilmu dan akal.
Oleh karena itu, sebagaimana yang kalian dengar, aku mengatakan hal ini sebagai seorang yang memberi nasehat. Dan sebagaimana yang kalian saksikan, bahwa orang-orang yang berjalan di arena ini tanpa ketentuan-ketentuan dan keterkaitan-keterkaitan, telah membahayakan diri mereka sendiri. Karena itu aku memberi nasehat supaya engkau tidak menjadi pelajaran buat yang selainmu. Hendaknya engkau mengambil pelajaran dari yang selainmu dan jangan engkau yang menjadi pelajaran buat yang selainmu…(link audio syaikh Muhammad Al Imam:http://www.youtube.com/watch?v=NBwhCrgKR6Q)
Semua keonaran, keributan, kekacauan, dan fitnah yang terjadi di negeri kita ini, khususnya di kalangan ahlus sunnah, diakibatkan ustadz-ustadz ambisius semacam ustadz Luqman Baabduh dan yang setipenya, atau ustadz-ustadz latah semacam Muhamamad Umar As Sewed dan yang setipenya. Ustadz Muhammad As Sewed, kami katakan latah, karena memang dia tidak kuasa menahan lisannya dalam urusan-urusan fitnah, dan acapkali tanpa pertimbangan maslahat dan mafsadat.
Mereka menduduki kursi Al Jarh wat Ta’dil yang mereka tidak berhak berada di atasnya. Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
إذا وسد الامر إلى غير أهله فانتظر الساعة
“Apabila sebuah urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya maka tunggulah kehancuran.” (HR. Al Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)
Semua ini merupakan pembodohan dan penipuan terhadap umat. Yaitu, ketika seorang da’i merampas sesuatu yang merupakan hak ulama bahkan hak orang-orang khusus di kalangan para ulama.
Hal ini tidak bermakna bahwa kita tidak menjarh (mencacat) atau mentahdzir dari bid’ah dan ahli bid’ah. Namun semua itu dilakukan dengan bimbingan para ulama dalam melakukannya, dan tanpa membonceng di baliknya hawa nafsu maupun ambisi tertentu, terlebih bila masalahnya terkait dengan seseorang yang asalnya adalah ahlus sunnah.
Tulisan kami ini bukan bermaksud untuk merampas hak orang-orang khusus dari kalangan para ulama. Akan tetapi kami hanya ingin mengungkap kenyataan pahit yang sedang melanda dakwah salafiyyah di Indonesia dan menepis sangkaan-sangkaan buruk yang dialamatkan kepada kami. Dan sebenarnya kami pun menulis semua ini dengan hati yang sangat berat dan pilu. Semoga Allah Ta’ala selalu melimpahkan hidayah dan taufiq-Nya kepada kami dan seluruh kaum muslimin.
Wallahu a’lam bish shawab.
Bersambung…